Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Di tengah kerasnya tuntutan ekonomi dan kehidupan modern, banyak ayah rela bekerja tanpa mengenal lelah demi mencukupi kebutuhan keluarga. Mereka bangun pagi, pulang malam, bahkan mengorbankan kesehatan demi memastikan anak-anaknya hidup layak.

Namun di balik perjuangan dunia tersebut, muncul satu pertanyaan yang dinilai jauh lebih berat dalam pandangan agama:

“Apakah anak mengenal Allah karena ayahnya?”

Pertanyaan itu kini ramai menjadi perbincangan di media sosial setelah muncul tulisan reflektif berjudul “Ketika Anak Bertanya: Mengapa Ayah Tidak Membimbingku?” yang menyentuh hati banyak orang tua, khususnya para ayah.

Tulisan tersebut membahas bagaimana sebagian orang tua terlalu fokus membangun masa depan dunia anak, tetapi tanpa sadar lalai membimbing akhlak, ibadah, dan kedekatan anak kepada Allah SWT.

 

Pandangan Ulama: Ayah Adalah Pemimpin Keluarga

Dalam Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ayah juga memiliki tanggung jawab besar sebagai pemimpin keluarga.

KH Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym pernah menekankan bahwa keberhasilan seorang ayah tidak hanya diukur dari materi yang diberikan kepada anak.

Menurutnya, anak membutuhkan keteladanan, perhatian, dan kehadiran emosional dari sosok ayah.

“Anak itu lebih banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar,” demikian pesan yang sering disampaikan Aa Gym dalam berbagai kajian keluarga.

Hal senada juga pernah disampaikan KH Ahmad Bahauddin Nursalim. Ulama asal Rembang itu menjelaskan bahwa orang tua memiliki amanah besar untuk mengenalkan agama kepada anak sejak kecil.

Menurut Gus Baha, pendidikan iman di rumah jauh lebih penting dibanding sekadar kebanggaan duniawi.

“Kalau anak pintar dunia tapi jauh dari Allah, orang tua tetap punya tanggung jawab besar di hadapan Allah,” ujar Gus Baha dalam salah satu ceramahnya.

 

Anak Tidak Hanya Butuh Uang, Tapi Kehadiran Ayah

Fenomena ayah yang sibuk bekerja hingga minim komunikasi dengan anak kini menjadi perhatian banyak psikolog dan tokoh agama.

Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa banyak anak sebenarnya tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin:

  • didengar,
  • dipeluk,
  • ditemani,
  • dan dibimbing dengan lembut.

Sayangnya, tidak sedikit anak tumbuh dalam rumah yang secara materi cukup, tetapi miskin perhatian dan kedekatan emosional.

Akibatnya, hubungan ayah dan anak perlahan menjadi renggang.

 

Teladan Ayah Sangat Menentukan Masa Depan Anak

Islam mengajarkan bahwa anak adalah peniru terbaik dari perilaku orang tuanya.

Ketika ayah rajin shalat, lembut kepada ibu, menjaga ucapan, dan dekat dengan Al-Qur’an, anak cenderung tumbuh mengikuti kebiasaan baik tersebut.

Sebaliknya, jika anak lebih sering melihat:

  • kemarahan,
  • bentakan,
  • ucapan kasar,
  • atau ayah yang jauh dari ibadah,

maka hal itu dapat membentuk karakter anak di masa depan.

KH Miftah Maulana Habiburrahman dalam beberapa ceramahnya juga menegaskan bahwa dakwah paling kuat dalam keluarga adalah contoh nyata, bukan sekadar nasihat.

“Anak itu melihat kehidupan orang tuanya setiap hari. Maka jadilah contoh sebelum menjadi pemberi nasihat,” ujarnya.

 

Penyesalan Orang Tua Sering Datang Terlambat

Tulisan reflektif tersebut juga menggambarkan suasana menyentuh tentang hari ketika semua amanah dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Banyak orang tua baru menyadari pentingnya kedekatan dengan anak ketika hubungan sudah terlanjur jauh.

Sementara banyak anak baru merasakan kehilangan setelah ayahnya tidak lagi ada di dunia.

Karena itu, para ulama mengingatkan pentingnya membangun rumah tangga yang dipenuhi:

  • doa,
  • kasih sayang,
  • Al-Qur’an,
  • dan komunikasi yang hangat.

Rumah yang Dekat dengan Allah Akan Lebih Kuat

Dalam pandangan Islam, rumah tangga yang harmonis bukan ditentukan oleh kemewahan semata.

Ketenangan sejati justru lahir dari keluarga yang saling mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Momen sederhana seperti:

  • shalat berjamaah,
  • makan bersama,
  • mendengarkan cerita anak,
  • hingga nasihat lembut sebelum tidur,

dinilai jauh lebih membekas dalam hati anak dibanding hadiah mahal.

 

Pesan untuk Para Ayah

Tulisan ini menjadi pengingat mendalam bahwa anak-anak kelak mungkin tidak akan mengingat:

  • berapa besar penghasilan ayahnya,
  • mobil apa yang dibeli,
  • atau rumah semewah apa yang dimiliki.

Namun mereka akan selalu mengingat:

  • apakah ayah hadir dalam hidup mereka,
  • apakah ayah memberi rasa aman,
  • dan apakah ayah membimbing mereka mengenal Allah SWT.

Karena sejatinya, menjadi ayah bukan hanya sukses membangun dunia anak, tetapi juga membantu menyelamatkan akhirat mereka.

 

***

Queensha Jepara, Selasa, 26 Mei 2026.