Queensha.id – Sejarah Islam,
Nama Mbah Panggung cukup populer di kalangan masyarakat Jawa Tengah. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa terdapat dua tokoh berbeda yang sama-sama dikenal dengan sebutan tersebut.
Keduanya merupakan tokoh Islam yang dihormati masyarakat, tetapi memiliki asal-usul, garis keturunan, dan perjalanan dakwah yang berbeda. Karena kemiripan nama, banyak peziarah maupun masyarakat umum yang mengira keduanya adalah sosok yang sama.
Berikut ulasan lengkapnya.
1. Mbah Panggung Tegal (Syekh Abdurrahman / Sayyid Syarif Abdurrahman)
Tokoh pertama adalah Mbah Panggung Tegal, yang dipercaya bernama Syekh Abdurrahman atau dalam sejumlah tradisi disebut Sayyid Syarif Abdurrahman.
Beliau dikenal sebagai salah satu penyebar Islam paling awal di kawasan Tegal dan pesisir Pantai Utara Jawa.
Lokasi makam
Kompleks makam berada di:
- Jalan KH Mukhlas
- Kelurahan Panggung
- Kecamatan Tegal Timur
- Kota Tegal
- Jawa Tengah
Kompleks tersebut menjadi salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi, terutama menjelang bulan Sya’ban saat pelaksanaan haul.
Sejarah dakwah
Menurut berbagai tradisi lokal, Syekh Abdurrahman datang dari Jazirah Arab untuk berdakwah di wilayah pesisir Tegal.
Masyarakat meyakini daerah Kelurahan Panggung dahulu merupakan pulau karang yang lebih tinggi daripada daratan sekitarnya. Dari situlah muncul sebutan “Mbah Panggung”, yakni ulama yang tinggal di tempat menyerupai panggung.
Beliau berdakwah melalui pendekatan sosial:
- membaur dengan masyarakat,
- ikut bertani,
- mendekati warga secara perlahan,
- tanpa paksaan.
Wilayah dakwahnya dipercaya meliputi Tegal, Slawi, Adiwerna, Dukuhturi hingga sebagian Brebes.
Versi sejarah
Sejumlah sumber menyebut Mbah Panggung hidup pada masa Walisongo dan dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga. Namun, terdapat pula versi lain mengenai masa hidup dan silsilahnya. Karena sebagian besar bersumber dari tradisi lisan, para sejarawan menilai riwayat tersebut masih memerlukan verifikasi melalui naskah dan bukti sejarah yang lebih kuat.
Keunikan makam
Di kompleks makam terdapat kisah mengenai dua hewan peliharaan yang dikenal dengan nama Iman dan Tauhid, yang menjadi bagian dari cerita rakyat setempat dan sering diceritakan para juru kunci.
2. Mbah Panggung Kudus (Sayyid Irsyad)
Tokoh kedua berada di Kabupaten Kudus.
Beliau dikenal sebagai Mbah Panggung Langgardalem dengan nama Sayyid Irsyad.
Lokasi makam
- Desa Langgardalem
- Kabupaten Kudus
- Jawa Tengah
Siapa Sayyid Irsyad?
Berbeda dengan Mbah Panggung Tegal, tokoh ini diyakini merupakan keturunan keenam Sunan Kudus.
Dalam sejarah lokal, beliau dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga pernah menjadi panglima perang yang membantu perjuangan di wilayah Pati dan sekitarnya.
Selain mengajarkan ilmu agama, beliau juga berperan menjaga keamanan masyarakat pada masanya.
Persamaan keduanya
Walaupun berbeda tokoh, keduanya memiliki sejumlah kesamaan:
- sama-sama dikenal sebagai ulama penyebar Islam;
- sama-sama memiliki makam yang ramai diziarahi;
- sama-sama dihormati masyarakat Jawa Tengah;
- kisah hidupnya banyak diwariskan melalui tradisi tutur.
Perbedaannya
| Mbah Panggung Tegal | Mbah Panggung Kudus |
|---|---|
| Syekh Abdurrahman / Sayyid Syarif Abdurrahman | Sayyid Irsyad |
| Kota Tegal | Kabupaten Kudus |
| Penyebar Islam pesisir Tegal | Keturunan Sunan Kudus |
| Fokus dakwah masyarakat pesisir | Dakwah sekaligus panglima perang |
| Tradisi haul sangat besar | Dikenal dalam sejarah keluarga Sunan Kudus |
Pandangan para pengamat sejarah
Sejarawan Indonesia umumnya mengingatkan bahwa sejarah tokoh-tokoh lokal seperti Mbah Panggung perlu dibedakan antara fakta sejarah dan tradisi lisan.
Sejarawan seperti menekankan pentingnya penggunaan sumber primer, naskah kuno, arsip, dan bukti arkeologis ketika menelusuri sejarah Islam di Jawa. Sementara itu, penelitian akademik dari perguruan tinggi menunjukkan bahwa riwayat Mbah Panggung berkembang dalam berbagai versi sehingga perlu dikaji secara kritis, tanpa mengurangi penghormatan masyarakat terhadap jasa dakwah beliau.
Warisan yang tetap hidup
Terlepas dari perbedaan versi sejarah, kedua sosok Mbah Panggung meninggalkan warisan penting berupa penyebaran ajaran Islam, pendidikan akhlak, dan nilai-nilai kebersamaan. Hingga kini, makam keduanya masih menjadi tujuan ziarah sekaligus pengingat akan perjalanan panjang Islam di Jawa Tengah.
***
Sumber: UIN/Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan