Queensha.id – Jakarta,

 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama mengeluarkan pengumuman resmi terkait penetapan awal Bulan Muharram 1448 Hijriah.

Pengumuman tersebut tertuang dalam surat bernomor 146/PB.08/A.II.11.13/06/2026 tentang Awal Bulan Muharram 1448 H, yang ditandatangani Ketua Lembaga Falakiyah PBNU Drs. KH. Sirril Wafa, MA dan Sekretaris H. Asmu’i Mansur, M.Kom pada tanggal 15 Juni 2026 di Jakarta.

Dokumen tersebut kini ramai beredar di media sosial, termasuk dibagikan oleh akun Facebook Hamidah Asyafiah, sehingga menjadi perhatian masyarakat yang ingin mengetahui kepastian pelaksanaan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

 

Isi Lengkap Pengumuman PBNU

Dalam surat resmi tersebut dijelaskan bahwa penetapan awal Muharram dilakukan berdasarkan hasil rukyatul hilal yang dilaksanakan pada Senin Pon, 29 Dzulhijjah 1447 H atau 15 Juni 2026 M.

PBNU menjelaskan bahwa laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai lokasi pemantauan menunjukkan hasil yang sama.

 

Tidak Ada Lokasi yang Berhasil Melihat Hilal

Dalam poin pertama surat tersebut disebutkan:

“Semua lokasi tidak melihat hilal.”

Artinya, berdasarkan laporan yang masuk dari berbagai titik pemantauan hilal di Indonesia, tidak ditemukan adanya hilal yang memenuhi kriteria untuk menetapkan masuknya bulan baru.

Karena itu, bulan Dzulhijjah digenapkan menjadi 30 hari sesuai kaidah hisab dan rukyat yang berlaku.

 

Kapan 1 Muharram 1448 H Dimulai?

Berdasarkan hasil tersebut, PBNU menetapkan bahwa:

1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada:

Rabu Kliwon, 17 Juni 2026 M

dan dimulai sejak:

Malam Rabu, 16 Juni 2026 setelah matahari terbenam.

Keputusan tersebut menjadi pedoman bagi warga Nahdlatul Ulama dalam menyambut pergantian tahun Hijriah.

 

Apa Itu Rukyatul Hilal?

Rukyatul hilal merupakan proses pengamatan bulan sabit pertama yang muncul setelah matahari terbenam menjelang pergantian bulan Hijriah.

Metode ini telah lama digunakan oleh umat Islam di berbagai negara sebagai dasar penentuan awal bulan-bulan penting dalam kalender Islam, termasuk:

  • Ramadan
  • Syawal
  • Dzulhijjah
  • Muharram

Di Indonesia, rukyatul hilal biasanya dilakukan di berbagai lokasi strategis seperti pantai, pegunungan, dan observatorium astronomi.

 

Mengapa Penetapan Awal Muharram Penting?

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan menjadi penanda dimulainya Tahun Baru Islam.

Bagi umat Islam, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan momentum refleksi diri, evaluasi kehidupan, dan memperbaiki kualitas ibadah.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah menjadi inspirasi utama dalam penetapan kalender Islam yang digunakan hingga saat ini.

 

Doa yang Dicantumkan PBNU

Dalam pengumuman tersebut, Lembaga Falakiyah PBNU juga mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk berdoa menyambut datangnya Tahun Baru Islam.

Terjemahan doa yang dicantumkan berbunyi:

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini. Kami berlindung kepada-Mu dari buruknya takdir dan buruknya ma’syar.”

Doa tersebut menjadi harapan agar tahun baru membawa keberkahan, keselamatan, dan kebaikan bagi seluruh umat.

 

Makna Tahun Baru Islam bagi Masyarakat Indonesia

Di berbagai daerah Indonesia, termasuk Kabupaten Jepara, Tahun Baru Islam biasanya diperingati dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti:

  • Khotmil Al-Qur’an
  • Pengajian umum
  • Santunan anak yatim
  • Pawai ta’aruf
  • Istighosah dan doa bersama
  • Festival budaya Islami

Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai keislaman sekaligus mempererat persaudaraan antar warga.

 

Purnomo Wardoyo: Tahun Baru Islam Harus Menjadi Momentum Perbaikan Bangsa

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai penetapan 1 Muharram 1448 Hijriah hendaknya tidak hanya dipahami sebagai agenda seremonial tahunan.

Menurutnya, semangat hijrah harus diterjemahkan dalam kehidupan nyata masyarakat dan para pemimpin bangsa.

“Tahun Baru Islam adalah momentum untuk melakukan introspeksi bersama. Hijrah bukan hanya berpindah tempat seperti yang dilakukan Rasulullah SAW, tetapi juga berpindah dari perilaku buruk menuju perilaku yang lebih baik,” ujar Purnomo Wardoyo.

Ia menambahkan bahwa nilai hijrah sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.

“Masyarakat berharap tahun baru ini menjadi awal yang baik bagi Indonesia. Kita ingin melihat kehidupan yang lebih sejahtera, ekonomi yang membaik, lapangan pekerjaan yang terbuka, serta berkurangnya praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.

Menurut Purnomo, para pejabat negara juga perlu menjadikan Muharram sebagai pengingat untuk meningkatkan integritas dalam menjalankan amanah rakyat.

“Jika semangat hijrah benar-benar diterapkan, maka yang lahir bukan hanya perubahan individu, tetapi juga perubahan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. Tahun Baru Islam harus menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial, kejujuran, dan pelayanan kepada rakyat,” pungkasnya.

 

Momentum Menyambut 1448 Hijriah

Dengan ditetapkannya 1 Muharram 1448 Hijriah pada Rabu, 17 Juni 2026, umat Islam di Indonesia kini bersiap menyambut Tahun Baru Islam dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.

Masyarakat diharapkan dapat menjadikan momentum ini sebagai sarana memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, mempererat persaudaraan, serta membangun optimisme untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.

 

***

Queensha Jepara.