Queensha.id – Jakarta,

 

Pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) segera menjalankan program penggantian atap asbes dengan genteng produksi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program tersebut dijadwalkan mulai berlangsung pada Oktober hingga November 2026 dengan menyerap sekitar 2,5 juta genteng hasil produksi pelaku UMKM.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengatakan kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menggerakkan roda perekonomian daerah melalui pemberdayaan industri lokal.

Sebanyak 500 ribu genteng akan dikirim dari sentra produksi di Purwakarta, sementara 2 juta genteng lainnya berasal dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri genteng di Indonesia.

“500 ribu genteng akan dikirimkan bulan depan di Purwakarta, dan 2 juta genteng produk UMKM kita akan kita kirim di Jatiwangi, Majalengka. Sehingga nanti masyarakat kecil UMKM juga bisa merasakan pembangunan,” ujar Maruarar Sirait, yang akrab disapa Ara, dalam Forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta Pusat.

 

Genteng UMKM Telah Bersertifikat

Ara menegaskan masyarakat tidak perlu meragukan kualitas genteng produksi UMKM. Menurutnya, seluruh produk yang akan digunakan dalam program tersebut telah melalui proses sertifikasi sehingga memenuhi standar yang ditetapkan.

Ia berharap keberhasilan program ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain agar terus membina pelaku UMKM di sektor bahan bangunan.

 

Ajak Daerah Jadi Produsen, Bukan Sekadar Pasar

Dalam kesempatan itu, Maruarar juga mengajak pemerintah daerah, khususnya Provinsi Jawa Timur, untuk mengembangkan potensi UMKM penghasil genteng.

Menurutnya, setiap provinsi sebaiknya mampu menjadi sentra produksi sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

“Kalau bisa nanti setiap provinsi itu jangan jadi pasar, tapi jadi produser, supaya pesannya dari provinsi itu dan bisa menggerakkan ekonomi di tempat tersebut,” katanya.

Penggantian Atap Asbes Demi Kesehatan

Selain mendukung perekonomian, program ini juga didorong oleh pertimbangan kesehatan masyarakat. Maruarar menilai penggunaan atap asbes perlu dikurangi karena paparan serat asbes dalam jangka panjang dapat membahayakan kesehatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kepulauan Bangka Belitung menjadi provinsi dengan persentase penggunaan atap asbes tertinggi di Indonesia, yakni 56,7 persen dari total rumah. Sementara DKI Jakarta berada di posisi kedua dengan 54,6 persen.

Menurut Ara, data tersebut menjadi dasar pemerintah untuk mempercepat program penggantian atap asbes dengan material yang lebih aman.

“Iya dong diganti, karena asbes itu kan tidak sehat. Yang paling tinggi itu dari data BPS ada di Jakarta dan Bangka Belitung,” tegasnya.

Dukung Hunian Layak dan UMKM Nasional

Program pengadaan jutaan genteng dari UMKM ini diharapkan mampu memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kualitas rumah masyarakat melalui penggunaan material yang lebih aman sekaligus memperkuat industri genteng lokal.

Dengan melibatkan UMKM sebagai pemasok utama, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi daerah semakin meningkat, lapangan kerja bertambah, serta industri bahan bangunan nasional semakin berkembang.

***

Sumber: CNBC.