Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan dari akun Facebook Rahma Fitri, yang mengutip tulisan dari rizalwahid10, menjadi perbincangan warganet. Tulisan tersebut mengajak masyarakat melihat persoalan masa lalu calon pasangan dengan sudut pandang yang lebih bijaksana.
Dalam narasinya disampaikan bahwa seorang laki-laki tidak dianjurkan sengaja bertanya apakah calon istrinya masih perawan atau tidak. Menurut penulis unggahan tersebut, apabila seseorang telah menyesali kesalahan, bertaubat, dan memperbaiki diri, maka ia tetap layak memperoleh pasangan yang baik serta kesempatan membangun rumah tangga yang bahagia.
Tulisan itu juga menekankan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh status keperawanan, melainkan oleh keimanan, kejujuran, saling percaya, kemampuan memaafkan, serta kesiapan berjuang bersama menghadapi masa depan.
Pandangan Islam
Dalam ajaran Islam, menjaga kehormatan (satrul ‘aib) merupakan nilai yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa seseorang tidak dianjurkan mengorek dosa masa lalu orang lain apabila dosa tersebut telah ditinggalkan dan telah ditaubati.
Islam juga mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun yang benar-benar menyesali perbuatannya, berhenti dari maksiat, bertekad tidak mengulanginya, serta memperbanyak amal saleh.
Al-Qur’an dalam Surah Az-Zumar ayat 53 menegaskan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Pandangan Ulama
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa seseorang yang telah bertaubat dengan taubat yang tulus tidak boleh terus-menerus dicela karena dosa masa lalunya. Dalam Islam, ukuran kemuliaan seseorang adalah ketakwaannya saat ini, bukan semata-mata kesalahan yang telah ditinggalkan.
Di sisi lain, para ulama juga menekankan pentingnya kejujuran dalam membangun rumah tangga. Apabila ada hal yang secara nyata dapat memengaruhi kehidupan pernikahan, pasangan dianjurkan menyelesaikannya dengan cara yang bijaksana, penuh musyawarah, tanpa membuka aib kepada orang lain yang tidak berkepentingan.
Islam tidak memerintahkan seseorang untuk mengungkap seluruh dosa masa lalunya kepada calon pasangan apabila dosa tersebut telah ditaubati dan tidak lagi berlanjut. Namun, hubungan pernikahan harus dibangun di atas kejujuran, amanah, dan saling percaya.
Keperawanan Bukan Satu-satunya Ukuran
Islam mengajarkan agar memilih pasangan berdasarkan agama, akhlak, dan ketakwaannya. Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang mengutamakan agama dalam memilih pasangan hidup karena itulah yang akan membawa keberkahan rumah tangga.
Keperawanan memang memiliki nilai yang dihormati dalam syariat, tetapi Islam juga memberikan tempat yang sangat besar bagi taubat. Seseorang yang pernah melakukan kesalahan, lalu benar-benar kembali kepada Allah dan memperbaiki hidupnya, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kehidupan yang baik.
Di sisi lain, Islam tetap melarang perzinaan dan memerintahkan setiap Muslim menjaga kehormatan dirinya sebelum menikah. Larangan tersebut berlaku bagi laki-laki maupun perempuan.
Membangun Rumah Tangga yang Bahagia
Para ulama sepakat bahwa rumah tangga yang kokoh dibangun di atas beberapa prinsip utama, yaitu:
- Keimanan kepada Allah SWT.
- Kejujuran dan saling percaya.
- Akhlak yang baik.
- Saling menghormati dan memaafkan.
- Komitmen menjaga kesetiaan setelah menikah.
- Musyawarah dalam menghadapi masalah.
Dengan fondasi tersebut, pasangan memiliki peluang lebih besar untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Unggahan yang beredar di media sosial tersebut pada dasarnya mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga kehormatan diri, menjauhi perbuatan zina, serta memberikan kesempatan bagi mereka yang telah bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, penilaian terhadap seseorang tidak hanya didasarkan pada masa lalunya, tetapi juga pada keadaan dirinya saat ini, ketakwaannya, serta kesungguhannya menjalani kehidupan sesuai tuntunan Allah SWT. Sikap saling menghormati, tidak mengorek aib, dan membangun kepercayaan menjadi bekal penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
***
Sumber: Rahma Fitri/Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan