Queensha.id – Demak,
Di pesisir utara Jawa yang terus digerus laut, tepatnya di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, kabupaten Demak yang tersimpan kisah sunyi tentang keteguhan yang nyaris tak masuk akal.
Seorang konten kreator asal Jepara, Wikha Setyawan mendokumentasikan aktifitas kehidupan seorang perempuan lanjut usia di wilayah kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Diinformasikan, seorang perempuan bernama Pasijah yang akrab disapa Mak Jah hingga memilih bertahan di tanah yang perlahan tenggelam, saat banyak orang telah lama pergi.
Usianya 56 tahun. Namun daya tahannya melampaui batas usia dan rasa takut.
Rumah yang ia tinggali kini berdiri sendiri, dikelilingi air laut. Tempat yang dulu merupakan kampung dengan jalan dan kehidupan, kini berubah menjadi hamparan air akibat abrasi yang berlangsung sejak sekitar tahun 2000.
Gelombang demi gelombang menggerus daratan tanpa henti. Tapi Mak Jah tidak bergeming.
Alih-alih meninggalkan kampung halaman seperti warga lain, ia memilih tetap tinggal. Keputusan yang bukan dilandasi keterpaksaan, melainkan panggilan batin untuk menjaga tanah kelahirannya.
“Selagi rumah masih bisa ditinggali, mangrove masih bisa dirawat, saya di sini,” tegasnya, Selasa (28/4).
Di tengah keterbatasan dan ancaman yang terus mendekat, Mak Jah tidak hanya bertahan dan ia melawan. Dengan tangan yang mulai renta, ia menanam dan merawat mangrove satu per satu. Tanpa sorotan, tanpa bantuan besar, tanpa panggung.
Mangrove yang ia tanam bukan sekadar vegetasi pesisir. Itu adalah benteng alami, upaya nyata menahan laju abrasi yang kian menggila. Di saat isu perubahan iklim ramai dibahas di forum-forum resmi, Mak Jah justru menghadapinya secara langsung setiap hari.
Air laut yang terus naik bukan data baginya. Itu kenyataan yang mengelilingi rumahnya.
Kisah Mak Jah menjadi simbol perlawanan paling sunyi di pesisir Sayung. Ia bukan tokoh besar, bukan pejabat, bukan aktivis yang sering tampil di layar. Namun keteguhannya menjadikannya benteng terakhir di wilayah yang perlahan hilang dari peta.
Pertanyaan besar pun muncul: sampai kapan perjuangan ini dibiarkan berjalan sendiri?
Abrasi di Sayung bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius. Apa yang dilakukan Mak Jah adalah bentuk perlawanan terakhir dan bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk harapan yang tersisa.
Ia menjaga lebih dari sekadar rumah.
Ia menjaga masa depan yang nyaris tenggelam.
***
Sumber: Wikha Setyawan.

Tinggalkan Balasan