Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan dari akun Facebook Mardiyono Mardiyono menjadi perbincangan warganet. Dalam unggahan tersebut tertulis kalimat:
“Jika zina mempersulit pintu rezeki, lantas kenapa yang open BO selalu lancar?”
Unggahan tersebut memunculkan beragam tanggapan mengenai hubungan antara perbuatan maksiat dengan rezeki seseorang menurut sudut pandang sosial maupun agama.
Pandangan Pengamat Sosial Jepara Purnomo Wardoyo
Menanggapi fenomena tersebut, pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai masyarakat perlu membedakan antara banyaknya penghasilan dengan keberkahan rezeki.
Menurutnya, tidak semua orang yang tampak memiliki uang, usaha ramai, atau gaya hidup mewah dapat langsung dianggap memperoleh rezeki yang penuh keberkahan.
Purnomo Wardoyo menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, seseorang yang melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan norma agama maupun norma sosial bisa saja memperoleh pendapatan yang besar dalam jangka pendek. Namun, hal itu tidak selalu identik dengan ketenangan hidup, kebahagiaan, kesehatan, keharmonisan keluarga, maupun masa depan yang baik.
Ia juga menilai bahwa media sosial sering kali hanya menampilkan sisi keberhasilan seseorang, sementara berbagai persoalan pribadi, tekanan psikologis, konflik keluarga, hingga risiko hukum tidak terlihat oleh publik.
“Jangan mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya uang yang terlihat. Rezeki bukan sekadar nominal, tetapi juga mencakup kesehatan, keluarga yang harmonis, ketenangan hati, serta keberkahan hidup,” ujarnya, Minggu (23/8/2026).
Pandangan Islam Tentang Zina dan Rezeki
Dalam Islam, zina merupakan dosa besar yang secara tegas dilarang. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 32:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa kemaksiatan, termasuk zina, dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan hidup. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa Allah memberikan rezeki kepada siapa saja sesuai kehendak-Nya, baik kepada orang yang taat maupun yang bermaksiat.
Karena itu, seseorang yang melakukan perbuatan dosa masih mungkin memperoleh kekayaan atau penghasilan di dunia. Hal tersebut bukan berarti perbuatannya dibenarkan, melainkan dapat menjadi bentuk ujian atau penangguhan sebelum datangnya pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Pendapat Ulama Indonesia
Sejumlah ulama Indonesia menegaskan bahwa ukuran rezeki dalam Islam bukan hanya banyaknya harta, tetapi juga kehalalan, keberkahan, dan manfaatnya.
Ulama mengingatkan bahwa harta yang diperoleh melalui jalan yang diharamkan tidak membawa keberkahan. Walaupun secara materi tampak melimpah, harta tersebut dapat mengundang berbagai dampak buruk, seperti kegelisahan, hilangnya ketenteraman, rusaknya hubungan keluarga, hingga pertanggungjawaban di akhirat.
Rezeki Tidak Hanya Berupa Uang
Dalam perspektif Islam, rezeki memiliki makna yang luas, antara lain:
- Nikmat kesehatan.
- Keluarga yang harmonis.
- Anak-anak yang saleh.
- Ilmu yang bermanfaat.
- Hati yang tenang.
- Kemudahan dalam beribadah.
- Harta yang halal dan berkah.
Karena itu, seseorang yang terlihat kaya belum tentu memperoleh rezeki yang berkah, sedangkan orang yang hidup sederhana dapat memiliki kehidupan yang lebih tenteram dan penuh keberkahan.
Unggahan yang mempertanyakan mengapa pelaku open BO terlihat tetap memperoleh penghasilan menjadi pengingat bahwa ukuran rezeki tidak dapat dinilai hanya dari sisi materi.
Menurut pandangan sosial, kondisi yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan kehidupan seseorang secara utuh. Sementara menurut ajaran Islam, Allah dapat memberikan kelapangan rezeki kepada siapa pun sebagai bentuk ujian, tetapi keberkahan, ketenangan, dan keselamatan hidup merupakan ukuran yang jauh lebih utama daripada sekadar banyaknya harta.
***
Sumber: Queensha Jepara.

Tinggalkan Balasan