Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Tidak semua orang menjadikan membaca atau menonton berita sebagai kebiasaan sehari-hari. Namun, bagi sebagian orang, mengikuti perkembangan informasi terbaru sudah menjadi bagian dari rutinitas yang sulit ditinggalkan.

Dalam dunia yang bergerak begitu cepat, kebiasaan mengikuti berita tidak hanya menunjukkan rasa ingin tahu, tetapi juga mencerminkan karakter, pola pikir, hingga cara seseorang memandang dunia.

Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang yang aktif mengikuti berita cenderung memiliki beberapa sifat khas. Meski demikian, karakter tersebut tidak berlaku mutlak pada semua orang karena dipengaruhi pula oleh lingkungan, pengalaman hidup, dan kepribadian masing-masing.

Berikut tujuh ciri kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang gemar mengikuti berita.

1. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Orang yang rajin membaca berita umumnya memiliki rasa penasaran yang besar terhadap berbagai peristiwa di sekitarnya.

Mereka ingin memahami apa yang sedang terjadi, mulai dari isu politik, ekonomi, kesehatan, teknologi, hingga fenomena sosial. Bagi mereka, informasi merupakan sarana belajar yang terus berkembang.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Personality and Individual Differences (2024) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat keterbukaan berpikir (openness) yang tinggi cenderung lebih aktif mencari informasi dan mengikuti perkembangan berita.

2. Cenderung Lebih Mudah Cemas

Sebagian pencinta berita juga memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan sifat neurotik, yakni kecenderungan seseorang lebih mudah merasa khawatir atau cemas.

Psikolog klinis Dr. Adam S. Anderson menjelaskan bahwa manusia secara alami terdorong mencari informasi ketika menghadapi ketidakpastian. Dengan mengetahui perkembangan terbaru, mereka merasa lebih siap menghadapi berbagai situasi.

3. Teliti dan Bertanggung Jawab

Orang yang gemar mengikuti berita biasanya tidak hanya membaca judul, tetapi juga berusaha mencari sumber informasi yang kredibel.

Mereka cenderung menyukai fakta dibanding sensasi dan lebih berhati-hati sebelum mempercayai sebuah informasi.

Psikolog Logan Jones menilai bahwa memilih media yang berkomitmen pada fakta dapat membantu seseorang tetap memperoleh informasi tanpa mengorbankan kesehatan mental.

4. Tidak Ingin Ketinggalan Informasi (FOMO)

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga menjadi salah satu alasan seseorang terus mengikuti berita.

Mereka merasa perlu mengetahui berbagai perkembangan agar tidak tertinggal dalam percakapan sosial maupun informasi penting yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa terlalu sering mengonsumsi berita negatif dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan.

5. Memiliki Tingkat Kewaspadaan Tinggi

Orang yang rutin membaca berita umumnya ingin selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Mereka merasa lebih aman ketika mengetahui kondisi terbaru, baik terkait cuaca ekstrem, bencana alam, ekonomi, maupun situasi keamanan.

Namun, para psikolog mengingatkan bahwa kewaspadaan yang berlebihan atau hipervigilansi justru dapat mengganggu kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan pengelolaan emosi yang baik.

6. Cenderung Berpikir Katastrofik

Sebagian orang memiliki kecenderungan membayangkan kemungkinan terburuk dari suatu keadaan.

Karakter ini membuat mereka lebih rajin memantau berita untuk memastikan apakah ancaman tersebut benar-benar berkembang atau tidak.

Walaupun dapat meningkatkan kesiapsiagaan, pola pikir katastrofik juga berpotensi memicu kecemasan berlebih jika tidak dikendalikan.

7. Memiliki Empati yang Tinggi

Di balik kebiasaan mengikuti berita, banyak orang terdorong oleh rasa kemanusiaan.

Mereka ingin mengetahui kondisi korban bencana, konflik, maupun berbagai persoalan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Psikolog Charles Figley menjelaskan bahwa paparan terus-menerus terhadap penderitaan orang lain dapat memicu compassion fatigue atau kelelahan empati, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan emosional akibat terlalu sering menyaksikan penderitaan melalui berita.

 

Bijak Mengonsumsi Berita Sangat Penting

Mengikuti berita merupakan kebiasaan yang positif karena dapat menambah wawasan, meningkatkan literasi, serta membantu seseorang mengambil keputusan berdasarkan informasi.

Namun, para ahli menyarankan agar masyarakat tetap bijak dalam mengonsumsi berita. Pilih sumber informasi yang kredibel, batasi paparan berita negatif secara berlebihan, dan luangkan waktu untuk beristirahat dari arus informasi agar kesehatan mental tetap terjaga.

Dengan keseimbangan tersebut, berita dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat tanpa menimbulkan kecemasan yang berlebihan.

 

***

Sumber: HB.

Penulis: Vico Rahman.