Queensha.id – Edukasi Sosial,
Fenomena menjamurnya kreator konten di Facebook kini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Demi meraih pendapatan dalam bentuk dolar, sebagian pengguna rela memproduksi konten yang provokatif, menyesatkan, bahkan cenderung merusak ruang publik digital.
Tren ini tidak hanya soal kreativitas, tetapi juga pergeseran nilai. Konten yang seharusnya edukatif dan informatif justru bergeser menjadi sensasional, penuh dramatisasi, hingga mengandung unsur adu domba dan penggiringan opini.
Konten Negatif Demi Viewer
Banyak kreator kini berlomba-lomba mengejar jumlah penonton (viewer) dan pengikut (followers). Sayangnya, tidak sedikit yang memilih jalan pintas yaitu membuat judul bombastis, narasi yang belum tentu benar, hingga konten yang sengaja memancing emosi publik.
Praktik ini sering kali mencakup:
– Penyebaran informasi tanpa verifikasi.
– Judul menyesatkan (clickbait).
– Narasi yang menghasut atau memperkeruh suasana.
– Menjatuhkan pihak tertentu demi sensasi.
Akibatnya, ruang digital dipenuhi konten yang bukan hanya dangkal, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat.
Pengamat: Ada Krisis Etika Digital
Pengamat sosial terkemuka Indonesia, Musni Umar, menilai fenomena ini sebagai tanda melemahnya etika dalam bermedia sosial. Ia menegaskan bahwa orientasi ekonomi yang berlebihan telah menggeser tanggung jawab moral para kreator.
“Ketika tujuan utama hanya uang, maka nilai kebenaran sering dikorbankan. Ini berbahaya karena publik bisa disesatkan,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Deddy Mulyadi yang kerap mengkritik keras konten-konten yang dinilai tidak mendidik. Menurutnya, konten negatif tidak hanya merusak individu, tetapi juga membentuk budaya digital yang toxic.
Algoritma dan Sensasi
Fenomena ini juga tidak lepas dari peran algoritma platform. Konten yang memicu emosi yakni baik marah, penasaran, maupun kontroversi yang cenderung lebih cepat viral. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian kreator untuk terus memproduksi konten serupa.
Akibatnya, terjadi lingkaran yang sulit diputus yaitu konten negatif, viral, menghasilkan uang, ditiru, semakin banyak konten serupa.
Dampak Nyata di Masyarakat
Maraknya konten provokatif membawa dampak serius, di antaranya:
– Polarisasi opini publik.
– Meningkatnya hoaks dan disinformasi.
– Menurunnya kepercayaan antar pengguna.
– Terciptanya budaya saling serang di ruang digital.
Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi merusak kualitas demokrasi dan keharmonisan sosial.
Perlu Literasi dan Kesadaran
Para ahli menekankan pentingnya literasi digital sebagai benteng utama. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpancing oleh konten sensasional dan lebih kritis dalam menerima informasi.
Sementara itu, kreator juga diingatkan untuk tidak semata mengejar keuntungan, tetapi tetap menjaga integritas dan tanggung jawab sosial.
Di tengah peluang besar yang ditawarkan platform digital seperti Facebook, muncul tantangan besar yaitu menjaga keseimbangan antara kreativitas dan etika.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya soal berapa dolar yang didapat, tetapi dampak apa yang ditinggalkan bagi masyarakat.
***
(Ditulis untuk Queensha Jepara — 28 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan