Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Perselingkuhan dalam rumah tangga kembali menjadi perbincangan publik setelah beredar kisah tentang seorang suami yang diduga memergoki istrinya menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Merasa dikhianati, sang suami memutuskan membawa anaknya pergi meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini mereka tempati.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, peristiwa semacam ini menjadi pengingat bahwa perselingkuhan merupakan persoalan serius yang dapat menghancurkan kepercayaan, merusak keutuhan keluarga, dan memberikan dampak psikologis yang mendalam, terutama bagi anak.

Dalam Islam, menjaga kesetiaan kepada pasangan merupakan kewajiban. Pengkhianatan terhadap ikatan pernikahan dipandang sebagai dosa dan dapat menjadi sebab rusaknya keharmonisan keluarga.

1. Perselingkuhan Merusak Amanah Pernikahan

Pernikahan adalah akad suci yang dibangun atas dasar cinta, kasih sayang, dan saling menjaga kehormatan.

Apabila salah satu pasangan menjalin hubungan dengan orang lain, kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun bisa runtuh dalam waktu singkat.

Islam memerintahkan suami dan istri untuk menjaga pandangan, menjaga hati, serta menjauhi segala bentuk hubungan yang dapat mengarah kepada zina.

Solusi:

  • Putuskan seluruh hubungan dengan pihak ketiga.
  • Bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah.
  • Bangun kembali kejujuran apabila masih ingin mempertahankan rumah tangga.

2. Jangan Mengambil Keputusan Saat Emosi

Ketika mengetahui pasangan berselingkuh, kemarahan merupakan hal yang wajar.

Namun Islam mengajarkan agar seseorang mengendalikan emosi sebelum mengambil keputusan besar.

Keputusan yang dibuat ketika marah sering kali disesali di kemudian hari.

Solusi:

  • Menenangkan diri.
  • Bermusyawarah.
  • Meminta nasihat keluarga yang bijaksana atau tokoh agama.

3. Anak Jangan Dijadikan Korban Konflik

Korban terbesar dalam perselingkuhan sering kali adalah anak.

Mereka dapat mengalami trauma, kehilangan rasa aman, hingga gangguan perkembangan emosional.

Islam memerintahkan orang tua tetap memberikan kasih sayang kepada anak meskipun hubungan suami istri sedang bermasalah.

Solusi:

  • Hindari bertengkar di depan anak.
  • Jangan menghasut anak membenci salah satu orang tua.
  • Tetap penuhi hak pendidikan, kasih sayang, dan nafkah anak.

4. Tabayyun Sebelum Mengambil Kesimpulan

Islam mengajarkan pentingnya memastikan kebenaran suatu informasi.

Jangan langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan dugaan, gosip, atau bukti yang belum jelas.

Kesalahan menuduh pasangan tanpa dasar juga merupakan perbuatan yang dilarang.

Solusi:

  • Cari fakta secara tenang.
  • Berkomunikasi secara jujur.
  • Hindari fitnah dan tuduhan tanpa bukti.

5. Taubat Selalu Terbuka

Jika memang terjadi perselingkuhan, pintu taubat tetap terbuka selama pelakunya benar-benar menyesal dan memperbaiki diri.

Taubat tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus disertai perubahan perilaku.

Solusi:

  • Mengakui kesalahan.
  • Memohon ampun kepada Allah.
  • Memutus hubungan dengan selingkuhan.
  • Berusaha mengembalikan kepercayaan pasangan.

6. Memaafkan Tidak Selalu Mudah

Memaafkan merupakan akhlak mulia, tetapi tidak berarti melupakan begitu saja.

Setiap pasangan memiliki hak mempertimbangkan apakah rumah tangga masih bisa diperbaiki atau tidak.

Solusi:

  • Lakukan evaluasi bersama.
  • Bangun komitmen baru jika ingin rujuk.
  • Bila tidak memungkinkan, tempuh jalan yang baik sesuai syariat.

7. Perceraian Menjadi Jalan Terakhir

Islam tidak melarang perceraian, tetapi juga tidak menganjurkannya tanpa alasan yang kuat.

Apabila seluruh upaya perdamaian gagal dan kehidupan rumah tangga sudah tidak sehat, perceraian dapat menjadi pilihan terakhir dengan tetap menjaga adab dan hak masing-masing.

Solusi:

  • Tempuh mediasi keluarga.
  • Libatkan tokoh agama atau konselor.
  • Selesaikan hak asuh dan nafkah anak secara adil sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Pandangan Islam Tentang Perselingkuhan

Islam melarang segala perbuatan yang mendekati zina. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Ayat ini tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala tindakan yang mengarah kepadanya, seperti hubungan yang tidak pantas dengan lawan jenis, komunikasi yang melampaui batas, hingga perselingkuhan emosional maupun fisik.

Dalam kehidupan rumah tangga, Islam mengajarkan beberapa prinsip utama:

  • Menjaga kesetiaan kepada pasangan.
  • Menutup aib keluarga dan tidak menyebarkan konflik ke publik.
  • Mengutamakan musyawarah ketika terjadi masalah.
  • Mengedepankan keadilan terhadap anak.
  • Memberikan kesempatan bertaubat bagi pihak yang bersalah.
  • Menjadikan perceraian sebagai pilihan terakhir apabila seluruh ikhtiar damai telah gagal.

Perselingkuhan memang dapat menghancurkan sebuah keluarga, tetapi Islam mengajarkan bahwa setiap masalah hendaknya diselesaikan dengan kesabaran, kejujuran, keadilan, dan tetap berpegang teguh kepada syariat Allah SWT. Apa pun keputusan yang diambil, kepentingan dan masa depan anak harus tetap menjadi prioritas utama agar mereka tidak menjadi korban dari konflik orang dewasa.

 

***

Sumber: TIS.

Penulis: Vico Rahman.