Queensha.id – Edukasi Sosial,
Rumah tangga merupakan ikatan suci yang dibangun atas dasar cinta, kasih sayang, tanggung jawab, dan ibadah kepada Allah SWT. Namun, tidak sedikit rumah tangga yang mengalami keretakan akibat munculnya rasa tidak puas terhadap pasangan. Ketidakpuasan tersebut, apabila tidak diselesaikan dengan komunikasi dan kesabaran, dapat membuka pintu perselingkuhan hingga berujung pada perceraian.
Dalam Islam, setiap suami maupun istri diperintahkan untuk menjaga pandangan, hati, serta kesetiaan kepada pasangannya. Allah SWT berfirman bahwa pasangan diciptakan agar manusia memperoleh ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat.
Berikut penjelasan mendalam mengenai beberapa penyebab yang sering memicu ketidakpuasan dalam rumah tangga menurut pandangan Islam.
1. Kurangnya Rasa Syukur kepada Pasangan
Salah satu penyebab terbesar ketidakpuasan adalah tidak mampu mensyukuri kelebihan pasangan. Seseorang hanya fokus melihat kekurangan, sementara segala pengorbanan pasangan dianggap hal biasa.
Islam mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seorang suami tidak membenci istrinya hanya karena satu kekurangan, sebab masih banyak kebaikan yang dimilikinya. Sikap syukur akan membuat hati lebih tenang dan menghargai pasangan.
2. Mencari Kebahagiaan Sesaat di Luar Rumah Tangga
Sebagian orang tergoda oleh perhatian dari orang lain. Hubungan baru sering terlihat lebih indah karena belum menghadapi ujian kehidupan.
Dalam kenyataannya, kenyamanan sesaat tidak selalu membawa kebahagiaan jangka panjang. Islam melarang mendekati zina, termasuk segala bentuk hubungan yang mengarah pada perselingkuhan, karena dapat menghancurkan kehormatan keluarga.
3. Kurangnya Komunikasi
Banyak pasangan memendam masalah tanpa membicarakannya. Akibatnya, kesalahpahaman terus menumpuk hingga salah satu pihak mencari tempat curhat kepada orang lain.
Islam menganjurkan musyawarah dan saling menasihati dengan cara yang baik. Komunikasi yang jujur dan penuh adab menjadi kunci menyelesaikan persoalan rumah tangga.
4. Tidak Mampu Mengendalikan Hawa Nafsu
Hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat membuat seseorang mengabaikan akal sehat dan nilai agama. Ketertarikan terhadap orang lain sering kali dimulai dari pandangan, percakapan, hingga hubungan yang semakin dekat.
Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga pandangan, menjaga hati, dan menghindari khalwat maupun hubungan yang berpotensi menimbulkan fitnah.
5. Mengabaikan Nasihat Pasangan
Tidak sedikit suami atau istri yang menganggap teguran pasangannya sebagai bentuk cerewet atau penghalang kebebasan. Padahal, teguran sering kali muncul karena rasa sayang dan keinginan mempertahankan rumah tangga.
Dalam Islam, suami istri diperintahkan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
6. Terpengaruh Rayuan Orang Ketiga
Orang ketiga sering memberikan perhatian, pujian, dan kenyamanan yang membuat seseorang merasa lebih dihargai. Namun, hubungan yang dibangun di atas pengkhianatan sering kali berakhir dengan penyesalan.
Islam mengingatkan agar setiap Muslim menjaga batas pergaulan dengan lawan jenis yang bukan mahram agar tidak membuka pintu maksiat.
7. Lupa Bahwa Pernikahan Adalah Amanah
Pernikahan bukan hanya hubungan antara dua manusia, tetapi juga amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Suami memiliki kewajiban memimpin keluarga dengan adil, sedangkan istri berkewajiban menjaga kehormatan keluarga. Mengkhianati pasangan berarti mengkhianati amanah tersebut.
8. Mengutamakan Emosi daripada Akal dan Iman
Saat marah atau kecewa, seseorang bisa mengambil keputusan yang disesali kemudian hari, seperti meninggalkan pasangan atau menjalin hubungan dengan orang lain.
Islam mengajarkan pentingnya mengendalikan amarah, bersabar, dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.
9. Penyesalan Datang Setelah Kehilangan
Banyak orang baru menyadari nilai pasangan setelah rumah tangga hancur. Anak-anak kehilangan kasih sayang kedua orang tua, sementara pelaku perselingkuhan sering menghadapi rasa bersalah dan penyesalan.
Karena itu, Islam menganjurkan menyelesaikan masalah sebelum terlambat melalui dialog, introspeksi, dan meminta pertolongan Allah SWT.
10. Memperkuat Iman sebagai Benteng Rumah Tangga
Solusi terbaik dalam menjaga rumah tangga adalah memperkuat iman. Pasangan yang rajin salat, berdoa, membaca Al-Qur’an, saling menghormati, serta memahami hak dan kewajiban akan lebih mampu menghadapi ujian.
Rumah tangga yang dibangun atas dasar ketakwaan akan lebih mudah menemukan jalan keluar ketika menghadapi masalah.
Pandangan Islam
Islam tidak membenarkan perselingkuhan maupun hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga. Namun, Islam juga mengajarkan agar tidak mudah menghakimi seseorang tanpa bukti yang jelas. Setiap konflik rumah tangga sebaiknya diselesaikan dengan komunikasi, kesabaran, saling memaafkan, serta melibatkan keluarga atau tokoh agama apabila diperlukan.
Perlu dipahami bahwa keretakan rumah tangga umumnya tidak disebabkan oleh satu pihak saja. Setiap pasangan perlu melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan mengedepankan nilai-nilai Islam dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Ketidakpuasan dalam rumah tangga bukanlah alasan untuk mengkhianati pasangan. Kebahagiaan sejati tidak diperoleh dari hubungan yang dibangun di atas pengkhianatan, melainkan dari kesabaran, kejujuran, saling menghargai, dan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan memperkuat iman, menjaga komunikasi, serta menjalankan hak dan kewajiban masing-masing, rumah tangga memiliki peluang lebih besar untuk tetap utuh dan harmonis meski diterpa berbagai ujian.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan