Queensha.id – Edukasi Islam,

Fenomena mengabaikan batas antara halal dan haram kian terasa dalam kehidupan modern. Pertimbangan untung-rugi sering kali menggeser nilai-nilai agama. Pertanyaan “apakah ini halal?” perlahan tergantikan oleh “apakah ini menguntungkan?”.

 

Padahal dalam ajaran Islam, batas halal dan haram merupakan fondasi utama dalam menjaga keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Sejak lebih dari 14 abad lalu, Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan akan datangnya zaman ketika manusia tidak lagi peduli dari mana harta diperoleh. Peringatan tersebut kini dinilai banyak ulama sebagai realitas yang sedang terjadi.

 

Ulama Soroti Krisis Kepekaan Halal-Haram

Quraish Shihab menegaskan bahwa konsep halal dan haram bukan sekadar hukum fikih, melainkan bagian dari sistem moral Islam. Dalam berbagai kajiannya, ia menjelaskan bahwa mengabaikan halal-haram berarti merusak hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus merusak tatanan sosial.

Menurutnya, keberkahan hidup tidak diukur dari jumlah harta, tetapi dari cara memperolehnya dan bagaimana harta itu digunakan.

Pandangan serupa disampaikan oleh Abdul Somad. Ia kerap mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam praktik yang diharamkan seperti riba, suap, dan penipuan, namun tidak lagi merasa bersalah. Kondisi ini disebutnya sebagai tanda melemahnya iman.

“Yang berbahaya bukan hanya dosanya, tetapi ketika dosa itu sudah tidak terasa sebagai dosa,” demikian pesan yang sering ia sampaikan dalam ceramah.

Sementara itu, Aa Gym menyoroti dampak batin dari harta haram. Ia menyebut bahwa ketenangan hidup tidak akan pernah hadir jika sumber rezeki tidak bersih. Dalam perspektifnya, kegelisahan, kecemasan, dan hilangnya keberkahan adalah bentuk “peringatan awal” sebelum azab yang lebih besar.

 

Dampak Nyata: Dari Doa hingga Kehidupan Sosial

Para ulama sepakat bahwa harta haram membawa dampak luas, tidak hanya secara spiritual tetapi juga sosial.

Pertama, doa menjadi terhalang. Dalam hadis yang sering dikutip, disebutkan bahwa seseorang yang makan dan berpakaian dari yang haram akan sulit mendapatkan pengabulan doa.

Kedua, hati menjadi keras. Ketika seseorang terbiasa dengan yang haram, sensitivitas terhadap kebenaran menurun. Nasihat tidak lagi menyentuh, dan ibadah terasa berat.

Ketiga, kehidupan kehilangan ketenangan. Meski secara materi terlihat berhasil, batin kerap diliputi kecemasan dan ketakutan.

Dalam skala lebih luas, praktik seperti korupsi, suap, dan manipulasi ekonomi juga berdampak pada rusaknya keadilan sosial. Hal ini menjadi perhatian serius banyak ulama karena berimbas pada ketimpangan dan hilangnya kepercayaan publik.

 

Hisab yang Lebih Berat di Akhirat

Dalam pandangan para ulama, pertanggungjawaban atas harta termasuk yang paling rinci di akhirat. Tidak hanya jumlah yang dimiliki, tetapi juga asal-usul dan penggunaannya akan diperiksa.

Setiap rupiah yang diperoleh dari cara yang tidak halal berpotensi menjadi beban. Bahkan, dalam banyak kajian disebutkan bahwa harta tersebut bisa berubah menjadi “saksi” yang memberatkan pemiliknya.

 

Jalan Keselamatan: Kembali ke Prinsip Dasar

Meski peringatannya keras, Islam tetap memberikan jalan yang jelas. Ulama menegaskan bahwa menjadi kaya bukanlah larangan, selama ditempuh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan.

Langkah yang ditekankan antara lain:

– Memastikan sumber penghasilan halal.

– Menghindari hal yang syubhat (meragukan)

– Menjaga integritas meski tidak diawasi.

– Memperbanyak sedekah dan amal kebaikan

Di tengah derasnya arus materialisme, peringatan tentang halal dan haram menjadi semakin relevan. Para ulama Indonesia mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada keberkahan dan keselamatan di akhirat.

Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali mempertanggungjawabkan apa yang ia makan, pakai, dan kumpulkan selama hidupnya.

Dan di hari itu, ukuran keberhasilan bukan lagi soal keuntungan…
melainkan kehalalan.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

 

***