Queensha.id – Jakarta,

Fenomena konten digital yang mengedepankan sensasi dan membuka aib kembali menjadi sorotan. Di tengah derasnya arus algoritma media sosial, praktik membongkar kelemahan hingga aib seseorang demi popularitas kian marak dan mengkhawatirkan.

CEO UIPM Indonesia, Rantastia Nur Alangan, secara tegas menyindir perilaku tersebut. Ia menilai, ada pihak-pihak yang menjadikan kelemahan orang lain sebagai komoditas demi meraih ketenaran instan di ruang digital.

“Kok ada orang itu sibuk cari kelemahan dan aib orang lain demi keuntungan dia. Ini bukan sekadar persoalan konten, tapi soal moral yang mulai bergeser,” tegas Rantastia dalam keterangannya, Rabu (14/4).

Menurutnya, sistem algoritma media sosial memang mendorong konten yang bersifat emosional dan kontroversial untuk lebih mudah viral. Namun hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan nilai-nilai etika dan agama.

Dalam pandangannya, batas halal dan haram sejatinya tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah tekanan lingkungan digital yang membuat banyak orang merasa “dipaksa” mengikuti arus demi bertahan hidup.

“Banyak yang beralasan ini tuntutan sistem. Padahal sistem boleh rusak, tapi tanggung jawab tetap ada pada diri masing-masing,” lanjutnya.

Rantastia juga mengingatkan bahwa membuka aib orang lain dalam perspektif agama merupakan perbuatan yang jelas dilarang. Namun ironisnya, praktik tersebut kini justru sering mendapat “imbalan” dalam bentuk popularitas dan keuntungan finansial.

Jika dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan akan melahirkan budaya baru yang berbahaya yaitu normalisasi membuka aib, hilangnya rasa malu, hingga menjadikan penderitaan orang lain sebagai tontonan publik.

Ia menegaskan bahwa rezeki tidak ditentukan oleh algoritma, melainkan berasal dari Tuhan. Algoritma hanyalah alat, bukan penentu arah hidup seseorang.

Sebagai solusi, Rantastia mendorong para kreator untuk lebih bijak dalam memanfaatkan media digital. Ia mengajak untuk membangun konten yang edukatif, inspiratif, dan tetap menjaga martabat manusia.

“Jangan sampai demi viral, kita kehilangan nilai. Lebih baik lambat tapi berkah, daripada cepat tapi merusak,” pungkasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, integritas tetap menjadi fondasi utama. Bukan sekadar soal apa yang bisa viral, tetapi apa yang benar dan layak untuk disebarkan.

 

***
(Redaksi Queensha Jepara | Rabu, 14 April 2026)