Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena perceraian di tengah masyarakat terus menjadi sorotan. Di balik setiap perpisahan rumah tangga, tersimpan berbagai faktor yang tak jarang berawal dari hal-hal sederhana, namun berujung pada keputusan besar: berpisah.

Sejumlah faktor disebut kerap menjadi pemicu retaknya hubungan suami istri. Mulai dari pengaruh media sosial, tekanan ekonomi, hingga lemahnya ketahanan iman dan komunikasi dalam rumah tangga.

 

Media Sosial dan Godaan yang Tak Terbendung

Perkembangan media sosial membawa dampak besar dalam kehidupan rumah tangga. Di satu sisi memudahkan komunikasi, namun di sisi lain membuka ruang godaan, perselingkuhan, hingga konflik akibat kesalahpahaman digital.

Tidak sedikit pasangan yang akhirnya bertengkar hanya karena komentar, pesan pribadi, atau unggahan yang memicu kecemburuan.

 

Tekanan Ekonomi dan Emosi yang Memuncak

Masalah ekonomi juga menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Ketika kebutuhan hidup meningkat sementara penghasilan stagnan, tekanan mental bisa memicu pertengkaran berkepanjangan.

Dalam kondisi ini, emosi sering kali lebih dominan daripada akal sehat. Komunikasi yang buruk memperparah situasi hingga hubungan menjadi renggang.

 

Mudah Terpengaruh dan Kurang Introspeksi

Faktor lain yang tak kalah penting adalah mudahnya seseorang terhasut atau dipengaruhi pihak luar. Baik itu teman, keluarga, maupun lingkungan, sering kali turut memperkeruh masalah rumah tangga.

Di sisi lain, kurangnya introspeksi diri membuat pasangan lebih sibuk menyalahkan satu sama lain daripada mencari solusi bersama.

 

Lemahnya Pondasi Iman

Dalam perspektif keagamaan, lemahnya keimanan kepada Allah SWT juga menjadi faktor penting. Ketika nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab mulai luntur, konflik kecil pun bisa membesar.

Padahal, rumah tangga sejatinya dibangun atas komitmen jangka panjang yang membutuhkan pengorbanan dan kesabaran.

 

Cerai Bukan Jalan Menang

Di tengah fenomena ini, muncul pandangan yang patut direnungkan,

“Memang kalau sudah cerai itu menang ya? Justru cerai itu rugi. Nanti akan menikah lagi dan mulai dari nol lagi.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perceraian bukanlah solusi instan. Alih-alih menyelesaikan masalah, perceraian sering kali justru membuka babak baru yang tidak lebih mudah.

Bahkan persoalan seperti penampilan atau keharmonisan di ranjang yang kerap dijadikan alasan, sejatinya masih bisa diperbaiki melalui komunikasi dan usaha bersama.

“Apa karena perkara di ranjang atau kecantikan? Kan bisa dipoles,” ujar salah satu warga.

 

Solusi: Kembali ke Diri Sendiri

Menghadapi realitas ini, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menjaga rumah tangga. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

– Koreksi diri sebelum menyalahkan pasangan.

– Perkuat komunikasi dan keterbukaan.

– Batasi pengaruh negatif dari luar, termasuk media sosial.

– Perkuat nilai keimanan dan kesabaran.

Cari solusi bersama, bukan jalan pintas
Pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan bagaimana dua orang mampu bertahan dan tumbuh bersama di tengah berbagai ujian.

Perceraian memang jalan yang sah, namun bukan berarti harus menjadi pilihan pertama. Sebab, mempertahankan jauh lebih sulit dan sering kali jauh lebih berharga.

 

***
(Queensha Jepara | 15 April 2026)