Queensha.id – Edukasi Kesehatan,

 

Tidak sedikit suami yang menganggap keluhan istri selama hamil sebagai sesuatu yang berlebihan. Padahal, menurut ilmu psikologi dan kesehatan, perubahan yang dialami ibu hamil merupakan kondisi nyata yang memengaruhi fisik, emosi, dan mental.

Sebuah unggahan yang beredar di media sosial dari akun Parentingpernikahan mengingatkan para suami agar tidak terburu-buru menilai istri yang sering mengeluh selama masa kehamilan. Sebaliknya, suami dianjurkan hadir sebagai pendamping yang memberikan dukungan, perhatian, dan rasa aman.

 

Kehamilan Mengubah Banyak Hal

Selama kurang lebih sembilan bulan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan. Hormon berubah, berat badan bertambah, kualitas tidur menurun, nafsu makan dapat berubah, serta muncul keluhan seperti mual, nyeri punggung, mudah lelah, hingga perubahan suasana hati.

Dari sisi psikologi, perubahan tersebut juga dapat membuat ibu hamil lebih sensitif terhadap lingkungan dan membutuhkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat, terutama suami.

 

Pandangan Pakar Psikologi Indonesia

Sejumlah psikolog Indonesia selama ini menjelaskan bahwa validasi emosi merupakan salah satu kebutuhan penting dalam hubungan suami istri, terlebih ketika istri sedang mengandung.

Ketika seorang istri berkata, “Aku capek” atau “Aku tidak nyaman”, respons terbaik bukan selalu memberikan solusi, melainkan menunjukkan empati. Kalimat sederhana seperti, “Aku mengerti apa yang kamu rasakan,” atau “Istirahat dulu, biar aku yang membantu,” dapat membuat ibu hamil merasa dihargai dan tidak berjuang sendirian.

Dalam psikologi keluarga, dukungan emosional dari pasangan diketahui dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa aman, serta memperkuat hubungan suami istri selama masa kehamilan.

 

Jangan Anggap Keluhan sebagai Tanda Lemah

Psikolog juga mengingatkan bahwa mengabaikan atau meremehkan keluhan ibu hamil dapat membuatnya merasa tidak dipahami. Perasaan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan emosional, terutama apabila berlangsung dalam waktu lama.

Sebaliknya, suami yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, membantu pekerjaan rumah, menemani kontrol kehamilan, dan memberikan apresiasi atas perjuangan istri dapat membantu menciptakan suasana yang lebih positif bagi ibu maupun calon bayi.

 

Dukungan Kecil, Dampak Besar

Pendampingan suami tidak selalu harus berupa tindakan besar. Hal-hal sederhana seperti membantu pekerjaan rumah, mengingatkan waktu makan, memijat ringan ketika istri merasa pegal, menemani saat pemeriksaan kehamilan, atau sekadar mendengarkan cerita istri dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mentalnya.

Bagi banyak ibu hamil, perhatian dan kehadiran pasangan sering kali menjadi sumber kekuatan untuk menjalani masa kehamilan dengan lebih tenang.

Jadi, kehamilan bukanlah penyakit, tetapi merupakan proses biologis yang menuntut kerja keras tubuh seorang perempuan. Karena itu, keluhan yang disampaikan istri tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk kelemahan.

Dari perspektif psikologi, empati, komunikasi yang hangat, dan dukungan emosional dari suami merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental ibu hamil sekaligus memperkuat keharmonisan keluarga. Menjadi suami yang hadir, mau mendengarkan, dan menghargai perjuangan istri adalah investasi berharga bagi kebahagiaan keluarga dan tumbuh kembang calon buah hati.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.