Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah kehidupan sosial, sering muncul anggapan bahwa doa orang yang dihina atau disakiti akan lebih cepat dikabulkan. Keyakinan ini banyak dipercaya masyarakat, bahkan kerap menjadi peringatan agar tidak merendahkan orang lain.

Lalu, benarkah doa orang yang terhina lebih manjur?

 

Doa Orang Terzalimi Memiliki Kedudukan Khusus

Dalam ajaran Islam, doa orang yang dizalimi memang memiliki keistimewaan. Ulama menjelaskan bahwa ketika seseorang diperlakukan tidak adil, disakiti, atau dihina tanpa alasan yang benar, maka doanya memiliki kedekatan khusus dengan Allah.

Ulama seperti Abdul Somad menjelaskan bahwa tidak ada penghalang antara doa orang yang terzalimi dengan Tuhan. Artinya, doa tersebut sangat mudah dikabulkan, baik dalam bentuk balasan di dunia maupun di akhirat.

Hal senada juga disampaikan oleh Buya Yahya, yang menegaskan bahwa menyakiti orang lain bukan hanya berdampak secara sosial, tetapi juga bisa berbalik menjadi keburukan bagi pelakunya melalui doa yang dipanjatkan korban.

 

Bukan Sekadar Dihina, Tapi Dizalimi

Meski demikian, ulama mengingatkan bahwa yang dimaksud bukan sekadar “tersinggung” atau merasa dihina secara subjektif. Yang dimaksud adalah benar-benar mengalami kezaliman, seperti diperlakukan tidak adil, difitnah, atau direndahkan tanpa alasan.

Jika seseorang hanya merasa tersinggung karena hal sepele, maka tidak serta-merta doanya memiliki keistimewaan tersebut.

Doa Bisa Jadi Kebaikan atau Keburukan
Menariknya, doa orang yang terzalimi tidak selalu berupa keburukan. Banyak ulama menganjurkan agar korban tetap mendoakan kebaikan, bukan balas dendam.

Menurut penjelasan para ulama, memilih memaafkan justru lebih tinggi derajatnya. Namun, jika korban berdoa atas keburukan pelaku, hal itu tetap dibolehkan selama tidak melampaui batas.

 

Peringatan untuk Tidak Merendahkan Orang Lain

Kepercayaan tentang “doa orang terhina” pada dasarnya menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati dalam bersikap.

Menghina, meremehkan, atau menyakiti orang lain bukan hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga bisa membawa konsekuensi spiritual.

 

Bijak dalam Menyikapi

Masyarakat diimbau untuk tidak hanya takut pada “doa orang yang disakiti”, tetapi lebih kepada membangun sikap saling menghargai.

Di sisi lain, bagi yang pernah dihina atau disakiti, penting untuk tetap mengendalikan emosi dan memilih jalan yang lebih bijak, seperti memaafkan atau mendoakan kebaikan.

Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling cepat membalas, tetapi siapa yang mampu menjaga hati dan sikap di tengah ujian.

 

***
14 April 2026