Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Tradisi kerokan yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia kembali menjadi sorotan. Di balik sensasi “lega” setelah kerokan, para pengamat kesehatan mengingatkan adanya risiko jika dilakukan secara berlebihan atau dengan teknik yang salah.

Kerokan selama ini dipercaya mampu “mengeluarkan angin” dari tubuh.

 

Namun dalam pandangan medis, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Warna merah atau kehitaman yang muncul di kulit justru merupakan reaksi alami akibat gesekan, bukan indikator penyakit.

Menurut pengamat kesehatan, fenomena warna pada kulit setelah kerokan berkaitan erat dengan kondisi pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit.

“Warna merah itu terjadi karena pelebaran dan pecahnya pembuluh darah kecil atau kapiler akibat gesekan. Itu bukan tanda angin keluar atau penyakit sedang disembuhkan,” jelas dr. Tirta Mandira Hudhi, dikutip dari berbagai sumber, Senin (30/3).

Ia menegaskan, semakin gelap warna yang muncul, justru menandakan tekanan yang diberikan saat kerokan semakin kuat.

“Kalau sampai ungu atau kehitaman, itu berarti tekanan terlalu keras. Jadi bukan karena penyakitnya lebih parah, tapi karena kulit mengalami memar yang lebih dalam,” tambahnya.

Selama ini, beredar mitos di masyarakat bahwa semakin merah hasil kerokan, maka semakin banyak “angin” yang keluar dan tubuh semakin sehat. Pandangan ini dinilai keliru dan tidak memiliki dasar medis.

Dalam dunia kesehatan, kondisi tersebut dikategorikan sebagai peradangan ringan pada kulit atau memar kecil akibat pecahnya kapiler. Artinya, perubahan warna bukan indikator kondisi internal tubuh, melainkan reaksi eksternal akibat tekanan.

Meski demikian, kerokan tidak sepenuhnya dilarang. Praktik ini masih bisa dilakukan selama memperhatikan aspek keamanan.

Pengamat kesehatan menyarankan agar kerokan dilakukan secara bijak, seperti menggunakan minyak atau pelumas untuk mengurangi gesekan, tidak dilakukan terlalu sering, serta menghindari area vital seperti tulang belakang dan sekitar jantung.

“Kerokan boleh saja sebagai bagian dari budaya, tapi jangan sampai berlebihan. Rasa nyaman itu sifatnya sementara, sementara risiko bisa berdampak lebih lama,” tegasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tidak semua kebiasaan turun-temurun sejalan dengan prinsip kesehatan modern. Edukasi yang tepat diperlukan agar masyarakat tidak terjebak pada mitos yang berpotensi membahayakan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan rasa nyaman sesaat. Kesadaran akan praktik yang aman menjadi kunci agar tradisi tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan.

 

***
(30 Maret 2026)