Queensha.id – Edukasi Sosial & Kesehatan,

 

Ciuman bukan sekadar ungkapan kasih sayang. Dari sudut pandang medis dan psikologi, ciuman merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang mampu memengaruhi kondisi emosional, hormon, hingga kualitas hubungan pasangan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa saat seseorang berciuman dengan pasangan yang disayangi, otak akan melepaskan hormon dopamin, oksitosin, dan serotonin. Ketiga zat kimia tersebut berperan dalam menimbulkan rasa bahagia, memperkuat ikatan emosional, sekaligus membantu menurunkan hormon stres (kortisol).

Di Indonesia, dokter dan edukator kesehatan juga menjelaskan bahwa ciuman yang dilakukan secara sehat dan saling setuju dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental maupun hubungan pasangan. Namun, ciuman juga tetap memiliki risiko penularan penyakit melalui air liur apabila salah satu pasangan sedang mengalami infeksi tertentu.

Menurut Pakar Kesehatan Indonesia

Dokter yang menjadi peninjau medis di Alodokter dan Halodoc menjelaskan bahwa berciuman dapat memicu pelepasan hormon oksitosin, dopamin, serotonin, sekaligus menurunkan kadar kortisol sehingga membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, dan mempererat hubungan emosional pasangan.

Penjelasan Fakta Tentang Ciuman

1. Ciuman dapat melepaskan dopamin sehingga terasa “membuat ketagihan”

Fakta ini sebagian besar benar.

Saat bibir bersentuhan, otak mengaktifkan sistem penghargaan (reward system). Akibatnya, hormon dopamin meningkat sehingga muncul rasa senang, nyaman, bahkan ingin mengulang pengalaman tersebut.

Namun, istilah “ketagihan” di sini bukan berarti kecanduan seperti narkoba, melainkan keinginan alami untuk kembali merasakan kedekatan emosional bersama pasangan.

2. Ciuman yang berlangsung lama membuat detak jantung pasangan sinkron

Pernyataan ini memiliki dasar ilmiah, meskipun tidak selalu terjadi pada setiap orang.

Ketika dua orang saling berpelukan, saling memandang, dan berciuman dalam suasana tenang, tubuh mereka dapat menunjukkan pola detak jantung dan pernapasan yang lebih selaras. Hal tersebut dipengaruhi oleh kedekatan emosional serta aktivitas sistem saraf otonom.

3. Banyak orang lebih mengingat ciuman pertama

Hal ini memang sering ditemukan dalam penelitian psikologi.

Peristiwa yang melibatkan emosi kuat akan lebih mudah disimpan oleh otak sebagai memori jangka panjang. Karena itu, ciuman pertama sering kali dikenang lebih lama dibandingkan beberapa peristiwa biasa.

4. Ciuman meningkatkan mood dan mengurangi stres

Fakta ini didukung banyak penelitian.

Berciuman membantu menurunkan hormon kortisol sekaligus meningkatkan oksitosin, serotonin, dan dopamin. Kombinasi hormon tersebut membuat seseorang merasa lebih rileks, tenang, dicintai, dan bahagia.

5. Ciuman bisa menjadi bentuk “self-healing”

Pernyataan ini perlu dipahami secara tepat.

Ciuman memang dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi kecemasan, serta mempererat hubungan. Akan tetapi, ciuman bukan pengganti terapi medis atau psikologis bagi orang yang mengalami depresi atau gangguan mental.

Dengan kata lain, ciuman dapat menjadi salah satu bentuk dukungan emosional, tetapi bukan pengobatan utama.

6. Ciuman mendadak membuat pasangan bahagia

Hal tersebut dapat terjadi apabila dilakukan dalam hubungan yang sehat, penuh rasa hormat, dan atas dasar kenyamanan kedua belah pihak.

Sentuhan fisik yang disukai pasangan mampu meningkatkan rasa aman serta memperkuat ikatan emosional.

7. Orang yang lahir pada bulan tertentu menjadi pencium terbaik

Pernyataan ini tidak memiliki bukti ilmiah.

Tidak ada penelitian medis yang menunjukkan bahwa kemampuan berciuman dipengaruhi oleh bulan kelahiran.

Kemampuan berciuman lebih dipengaruhi komunikasi, rasa saling menghargai, pengalaman, dan kenyamanan pasangan daripada faktor zodiak atau bulan lahir.

Tiga Fakta Penting Lainnya

8. Ciuman dapat membantu menurunkan tekanan darah

Saat berciuman, pembuluh darah dapat melebar sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Efek relaksasi ini dapat membantu menurunkan tekanan darah sementara pada sebagian orang.

9. Ciuman dapat mempererat hubungan

Oksitosin yang dilepaskan saat berciuman sering disebut sebagai “hormon cinta”. Hormon ini membantu meningkatkan rasa percaya, kedekatan, dan komitmen dalam hubungan.

10. Ciuman juga memiliki risiko kesehatan

Meskipun memiliki manfaat, ciuman dapat menularkan virus atau bakteri melalui air liur, seperti influenza, herpes simpleks, maupun mononukleosis pada kondisi tertentu. Karena itu, hindari berciuman ketika sedang mengalami infeksi mulut, demam, atau penyakit menular lainnya.

Secara ilmiah, ciuman memang memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan mental dan hubungan, mulai dari meningkatkan hormon kebahagiaan, mengurangi stres, mempererat ikatan emosional, hingga membantu tubuh menjadi lebih rileks.

 

Namun, tidak semua klaim yang beredar di media sosial benar. Misalnya, anggapan bahwa kemampuan berciuman ditentukan oleh bulan kelahiran belum memiliki dasar ilmiah.

Yang terpenting, ciuman hendaknya dilakukan secara sehat, saling menghormati, atas dasar persetujuan kedua belah pihak, serta memperhatikan kondisi kesehatan agar manfaatnya dapat dirasakan tanpa meningkatkan risiko penularan penyakit.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.