Queensha.id – Edukasi Sosial,
Belakangan ini masyarakat di berbagai daerah kerap menjumpai orang-orang yang berjalan kaki menempuh perjalanan sangat jauh dengan mengenakan pakaian serba hitam, membawa tas ransel besar, tongkat, hingga perlengkapan sederhana layaknya seorang musafir.
Fenomena tersebut memunculkan beragam pertanyaan di tengah masyarakat. Ada yang mengira mereka sedang menjalankan nazar, melakukan perjalanan spiritual, hingga ada yang bercita-cita berjalan kaki menuju Tanah Suci Makkah.
Di media sosial, kisah para pejalan kaki jarak jauh juga kerap menjadi viral dan mengundang perhatian publik.
Berbagai Tujuan Berjalan Kaki Jarak Jauh
Berdasarkan berbagai pemberitaan, tidak semua pejalan kaki memiliki tujuan yang sama. Sebagian memang melakukan perjalanan karena alasan ibadah, sebagian lagi karena nazar, latihan fisik, petualangan, atau perjalanan spiritual. Bahkan beberapa warga Indonesia sempat menjadi perhatian publik karena berjalan kaki menuju Makkah untuk menunaikan cita-cita berhaji, meski tetap harus memenuhi ketentuan dokumen perjalanan seperti paspor dan visa.
Selain itu, terdapat pula kisah seorang jemaah haji asal Jawa Tengah yang berjalan kaki puluhan kilometer setelah pulang dari Tanah Suci sebagai bentuk menunaikan nazar yang pernah diucapkannya.
Mengapa Banyak Memakai Pakaian Hitam?
Pakaian serba hitam yang dikenakan sebagian pejalan kaki sebenarnya bukan aturan khusus dalam agama.
Beberapa alasan yang sering dijumpai antara lain:
- Praktis dan tidak mudah terlihat kotor.
- Mudah dipadukan dengan perlengkapan perjalanan.
- Memberikan kesan sederhana.
- Menjadi identitas kelompok atau komunitas tertentu.
- Faktor kenyamanan dan pilihan pribadi.
Karena itu, mengenakan pakaian hitam tidak dapat dijadikan ukuran bahwa seseorang sedang melakukan perjalanan ibadah tertentu.
Pandangan Islam
Dalam Islam, seseorang yang melakukan perjalanan jauh disebut musafir. Islam memberikan berbagai keringanan bagi musafir, seperti diperbolehkannya menjamak atau mengqasar salat apabila memenuhi syarat-syarat tertentu.
Namun demikian, Islam tidak pernah mewajibkan seorang musafir mengenakan pakaian berwarna hitam ataupun harus berjalan kaki. Perjalanan yang dilakukan hendaknya memiliki tujuan yang baik, dilakukan dengan cara yang aman, serta tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Apabila seseorang berniat beribadah, bernazar, atau melakukan perjalanan untuk mencari ilmu dan kebaikan, maka niat tersebut merupakan urusan pribadi yang tetap harus disertai ikhtiar dan mematuhi aturan yang berlaku.
Fenomena Sosial yang Menarik Perhatian
Dari sisi sosial, fenomena berjalan kaki jarak jauh menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang memilih perjalanan sederhana sebagai bentuk perjuangan, pengendalian diri, latihan mental, maupun pencarian pengalaman hidup.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak langsung berprasangka terhadap orang-orang yang berjalan kaki dengan pakaian sederhana atau serba hitam. Selama tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak melanggar hukum, mereka memiliki hak untuk melakukan perjalanan sesuai tujuan masing-masing.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki alasan berbeda dalam menempuh perjalanan. Ada yang mengejar impian, menunaikan nazar, mencari ketenangan batin, berolahraga, atau sekadar menikmati perjalanan sebagai bagian dari pengalaman hidup. Yang terpenting, seluruh aktivitas tersebut tetap dilakukan dengan mengutamakan keselamatan, mematuhi aturan, serta menghormati norma yang berlaku di masyarakat.
Menurut Pandangan Pengamat Sosial
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena orang berjalan kaki jarak jauh dengan pakaian serba hitam tidak bisa langsung disimpulkan sebagai aktivitas yang negatif maupun dikaitkan dengan aliran tertentu.
“Fenomena ini harus dilihat secara objektif. Ada yang berjalan kaki karena nazar, ibadah, latihan fisik, mencari pengalaman hidup, hingga perjalanan spiritual. Masyarakat sebaiknya tidak mudah memberikan stigma hanya karena penampilan seseorang,” ujar Purnomo Wardoyo, Jum’at (3/7/2026).
Menurutnya, budaya berjalan kaki sebagai musafir juga mencerminkan semangat kesederhanaan, ketangguhan, dan perjuangan yang masih hidup di sebagian masyarakat Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar setiap perjalanan tetap memperhatikan keselamatan, mematuhi aturan lalu lintas, serta tidak mengganggu ketertiban umum.
“Yang terpenting bukan warna pakaian yang dikenakan, melainkan tujuan dan perilaku selama perjalanan. Selama dilakukan dengan niat yang baik, menghormati masyarakat, serta tidak melanggar hukum, fenomena ini dapat dipandang sebagai bagian dari keberagaman ekspresi sosial dan budaya di tengah masyarakat,” pungkasnya.
***

Tinggalkan Balasan