Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena sosial yang kian terasa di tengah masyarakat adalah kecenderungan sebagian orang untuk gemar menerima bantuan, namun enggan memberi. Suka ditolong, tetapi enggan menolong. Sikap ini tampak sederhana, namun menyimpan persoalan mendasar tentang karakter, empati, dan keseimbangan dalam kehidupan sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sulit menemukan pola ini. Saat seseorang berada dalam kesulitan, ia berharap banyak tangan terulur. Namun ketika berada dalam posisi mampu, tak jarang justru memilih diam, bahkan menghindar. Relasi sosial pun berubah menjadi satu arah: ingin ditopang, tapi tak siap menopang.

 

Budaya Instan dan Mental Ketergantungan

Perubahan zaman turut memengaruhi pola pikir masyarakat. Kemudahan akses bantuan, baik dari pemerintah, komunitas, hingga media sosial, secara tidak langsung membentuk mental instan. Sebagian orang terbiasa menerima tanpa proses, tanpa upaya timbal balik.

Akibatnya, muncul ketergantungan. Memberi dianggap beban, sementara menerima dianggap hak. Padahal dalam nilai sosial dan budaya Indonesia, gotong royong adalah fondasi utama yang menuntut keseimbangan antara memberi dan menerima.

 

Empati yang Mulai Tumpul

Sikap enggan memberi juga mencerminkan menurunnya empati. Ketika seseorang hanya fokus pada kebutuhan diri sendiri, kepekaan terhadap orang lain perlahan memudar. Ia bisa merasakan kesulitannya sendiri, tetapi sulit memahami kesulitan orang lain.

Ironisnya, orang dengan pola ini sering kali memiliki ekspektasi tinggi terhadap bantuan dari orang lain. Ketika tidak ditolong, ia merasa diabaikan. Namun saat diminta membantu, justru mencari alasan.

 

Dampak pada Kehidupan Sosial

Jika dibiarkan, pola ini dapat merusak tatanan sosial. Kepercayaan antarindividu menurun, solidaritas melemah, dan semangat kebersamaan perlahan hilang. Masyarakat menjadi lebih individualistis, di mana setiap orang sibuk dengan kepentingannya sendiri.

Padahal, kekuatan masyarakat terletak pada saling dukung. Ketika satu pihak hanya ingin menerima, keseimbangan itu runtuh.

 

Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia

Dalam perspektif keislaman, sikap gemar menerima namun enggan memberi jelas tidak dianjurkan. Sejumlah ulama terkemuka Indonesia menekankan pentingnya keseimbangan antara memberi dan menerima sebagai bagian dari akhlak mulia.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, memberi adalah bentuk kemuliaan. Ia kerap mengutip pesan bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” yang berarti memberi lebih utama daripada meminta.

 

Menurutnya, kebiasaan memberi bukan hanya soal materi, tetapi juga cerminan kedewasaan spiritual dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Abdul Somad menegaskan bahwa orang yang hanya ingin ditolong tanpa mau menolong orang lain menunjukkan lemahnya rasa syukur. Dalam berbagai ceramahnya, ia mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki seseorang sejatinya juga mengandung hak orang lain.

Pandangan serupa juga disampaikan Yahya Cholil Staquf, yang menekankan pentingnya membangun solidaritas sosial berbasis nilai keagamaan. Ia menilai bahwa masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang saling menguatkan, bukan saling bergantung secara sepihak.

 

Memberi Bukan Soal Materi

Memberi tidak selalu tentang uang atau barang. Waktu, tenaga, perhatian, bahkan sekadar mendengarkan, adalah bentuk pemberian yang sering kali lebih berarti. Begitu pula menolong, tidak selalu membutuhkan hal besar, tetapi niat dan kepedulian.

Kesadaran inilah yang perlu dibangun kembali. Bahwa hidup bukan hanya soal apa yang kita dapatkan, tetapi juga apa yang bisa kita berikan.

 

Refleksi untuk Semua

Setiap orang pernah berada di posisi membutuhkan bantuan. Namun penting untuk diingat, kehidupan adalah siklus. Hari ini kita ditolong, esok mungkin kita yang harus menolong.

Menjadi manusia yang seimbang yaitu mau menerima sekaligus mau memberi adalah kunci menjaga harmoni sosial. Sebab pada akhirnya, nilai seseorang tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia menerima, tetapi seberapa tulus ia memberi.

 

***
(8 April 2026)