Queensha.id – Jepara,
Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-477 Kabupaten Jepara dan Hari Kartini 2026 dimaknai dengan aksi nyata menjaga lingkungan. Perhutani KPH Pati bersama Komunitas Pecinta Alam Jepara dan Forkopimcam Batealit menggelar penanaman pohon di kawasan Air Terjun Banyu Anjlok, Minggu (19/04/2026).
Kegiatan ini berlangsung di petak 64, wilayah Gunung Muria yang masuk dalam Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Batealit, BKPH Muria Patiayam. Sebanyak 62 peserta terlibat dalam aksi penghijauan tersebut.
Tanam 150 Pohon, Jaga Sumber Air
Dalam kegiatan ini, sebanyak 150 bibit pohon ditanam, terdiri dari jenis salam, tabebuya, gondang, dan juwet. Penanaman difokuskan di sekitar kawasan air terjun sebagai upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus melindungi sumber mata air.
Administratur KPH Pati melalui Kepala RPH Batealit, Nur Hamid, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas elemen menjadi kunci dalam menjaga ekosistem hutan.
“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi dalam menjaga kelestarian hutan di kawasan Muria. Harapannya, keberadaan hutan dan sumber air tetap terjaga. Kita jaga alam, alam jaga kita,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Lingkungan dan Wisata
Ketua panitia dari Komunitas Pecinta Alam Jepara, M. Ainul Muttaqin, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud kepedulian terhadap lingkungan hidup.
“Kami ingin ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam, sekaligus memeriahkan Hari Jadi Jepara dan Hari Kartini dengan kegiatan yang berdampak langsung,” jelasnya, dilansir dari Perhutani.
Tak hanya soal lingkungan, kegiatan ini juga diharapkan mampu mengangkat potensi wisata lokal yang masih dalam tahap rintisan.
Dorong Wisata Alam Berbasis Konservasi
Camat Batealit, Yenny Diah Sulistiyani, mengapresiasi sinergi antara Perhutani, pemerintah desa, dan komunitas.
Menurutnya, kegiatan penanaman pohon ini memiliki nilai strategis ganda: menjaga kelestarian alam sekaligus memperkenalkan potensi wisata Air Terjun Banyu Anjlok kepada masyarakat luas.
“Selain menjaga lingkungan, ini juga menjadi langkah awal mengenalkan potensi wisata desa kepada publik,” ungkapnya.
Dari Seremonial ke Aksi Nyata
Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan krisis air, langkah kecil seperti penanaman pohon menjadi sangat berarti. Kegiatan ini menunjukkan bahwa peringatan hari besar daerah tidak harus selalu bersifat seremonial, tetapi bisa diwujudkan dalam aksi nyata yang berdampak jangka panjang.
Dengan kolaborasi yang terus dijaga, kawasan Muria diharapkan tetap hijau, lestari, dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
***
Perhutani.
(20 April 2026)

Tinggalkan Balasan