Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, nilai-nilai moral dan tanggung jawab seorang lelaki kerap mengalami pergeseran. Padahal dalam ajaran Islam, peran lelaki bukan sekadar identitas biologis, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun akhirat.
Fenomena sosial menunjukkan, tidak sedikit lelaki yang terjebak dalam perilaku menyimpang dari merendahkan perempuan hingga lalai dalam tanggung jawab keluarga. Para ulama Indonesia pun mengingatkan bahwa ada sifat-sifat tertentu yang tidak hanya merusak kehidupan sosial, tetapi juga termasuk perbuatan yang dibenci Allah SWT.
Merusak Kehormatan Wanita: Luka yang Tak Hanya Duniawi
Perilaku menyakiti, memaksa, atau merendahkan perempuan menjadi sorotan serius. Ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair pernah menegaskan bahwa perempuan memiliki kedudukan mulia yang harus dijaga. Menurut beliau, merendahkan perempuan sama saja dengan merusak tatanan kehormatan yang dijaga agama.
Menyerupai Wanita: Menyimpang dari Fitrah
Dalam pandangan Buya Yahya, lelaki yang sengaja menyerupai wanita dalam hal yang melampaui batas syariat dianggap telah keluar dari fitrah. Ini bukan sekadar persoalan gaya, melainkan menyangkut identitas dan nilai dasar yang ditetapkan dalam agama.
Durhaka pada Orang Tua: Pintu Kehancuran
Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. KH. Abdullah Gymnastiar menekankan bahwa kesuksesan hidup tidak akan berkah jika seorang anak menyakiti hati orang tuanya. Durhaka bukan hanya dosa besar, tapi juga menjadi penghalang datangnya kebaikan.
Lalai Menafkahi Keluarga: Mengkhianati Amanah
Seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarga. Ketika ia abai menafkahi istri dan anak, maka ia telah mengkhianati amanah. Ulama sepakat bahwa memberi nafkah bukan sekadar kewajiban ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab spiritual.
Selingkuh dan Hilangnya Ghirah
Perselingkuhan mencerminkan rapuhnya iman. Dalam kajian Ustaz Abdul Somad, lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap kehormatan keluarganya (ghirah) disebut sebagai tanda lemahnya iman. Kesetiaan bukan sekadar pilihan, melainkan harga diri.
Tidak Membimbing Keluarga dalam Agama
Menurut Quraish Shihab, keluarga adalah madrasah pertama. Jika seorang lelaki gagal membimbing keluarganya dalam agama, maka ia telah kehilangan peran utamanya sebagai pemimpin yang mengarahkan menuju keselamatan akhirat.
Meninggalkan Sholat Jumat Tanpa Uzur
Sholat Jumat merupakan kewajiban penting bagi lelaki Muslim. Mengabaikannya tanpa alasan yang dibenarkan dapat mengeraskan hati dan menjauhkan seseorang dari petunjuk. Para ulama menilai ini sebagai tanda mulai lunturnya kesadaran spiritual.
Antara Kesalahan dan Kesadaran
Islam tidak menuntut manusia untuk sempurna, tetapi menuntut kesadaran untuk terus memperbaiki diri. Kesalahan bukan akhir, namun menjadi berbahaya ketika diabaikan tanpa upaya taubat.
Pesan para ulama jelas yaitu lelaki sejati bukan yang bebas tanpa batas, tetapi yang mampu menjaga diri, keluarganya, dan kehormatan orang lain.
“Jadilah pelindung, bukan perusak.
Jadilah pemimpin, bukan beban.
Dan jadilah alasan keluargamu semakin dekat dengan surga”.
***
(Ditulis untuk Queensha Jepara, 29 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan