Queensha.id – Jepara,

 

Di tengah riuhnya perayaan Idul Fitri, ada makna yang jauh lebih dalam dari sekadar saling bermaafan. Di Lumbung Padi, Selasa (24/3/2026), Keluarga Besar Noto Prasodjo membuktikan bahwa Lebaran adalah tentang pulang dan bukan hanya ke rumah, tetapi ke hati yang pernah lama ditinggalkan.

Di bawah ukiran kayu khas Jepara yang berdiri kokoh, wajah-wajah yang berkumpul menyimpan kisah panjang tentang jarak, waktu, dan rindu yang diam-diam dipelihara. Balutan batik seragam yang dikenakan bukan sekadar estetika, melainkan penegasan bahwa mereka berasal dari akar yang sama, dari sejarah yang tak terpisahkan.

Keluarga ini merupakan bagian dari trah Bani Prasodjo asli Jepara dengan garis keturunan Bani Noto Prasodjo yang terus hidup lintas generasi. Nama-nama seperti Prayitno (Alm), Sri Prawani (Alm), Prawito (Alm), hingga generasi penerus seperti Pramono, Prawanto, Sri Prawanti, dan Sri Pratiwi menjadi simpul yang mengikat perjalanan panjang keluarga tersebut.

Di barisan depan, para sesepuh duduk dengan tenang hingga menjadi penjaga nilai, saksi perjalanan, sekaligus pengingat arah. Di belakang mereka, anak, cucu, hingga cicit berdiri, seolah menjadi jawaban bahwa ikatan ini tidak pernah benar-benar putus.

Salah satu anggota keluarga, Agus Widi, tak mampu menyembunyikan getar makna dari pertemuan ini.

“Pertemuan ini sangat berarti bagi saya. Walaupun hanya satu tahun sekali, kita bisa saling mengenal dengan saudara-saudara yang jauh dan jarang bertemu,” ujarnya dengan suara yang sarat emosi.

Bagi mereka, ini bukan sekadar temu kangen. Ini adalah ruang untuk mengenali kembali wajah-wajah yang sempat asing, mempertemukan generasi yang sebelumnya hanya saling tahu nama. Anak-anak yang dulu tak saling kenal kini saling menatap, menyadari bahwa mereka adalah bagian dari satu cerita besar yang sama.

Acara berjalan sederhana, namun justru di situlah kekuatannya. Doa bersama membuka pertemuan dengan khidmat, menghadirkan rasa syukur yang tak terucapkan. Pesan para sesepuh mengalir perlahan, namun dalam yaitu agar keluarga tetap rukun, saling menjaga, dan tidak saling meninggalkan.

Saat prosesi saling bersalaman dimulai, suasana berubah menjadi haru yang sulit dibendung. Tangan-tangan yang saling menggenggam bukan hanya meminta maaf, tetapi juga menyembuhkan. Ada luka yang mungkin tak pernah terucap, namun luruh dalam pelukan. Ada mata yang berkaca-kaca, ada senyum yang bergetar hingga semua melebur dalam keikhlasan.

Ketika acara ditutup dengan makan bersama, tawa kembali pecah. Hangat, sederhana, namun jujur. Seolah menegaskan bahwa di tengah segala perbedaan dan kesibukan hidup, keluarga tetap menjadi tempat pulang yang paling utuh.

Di dunia yang terus berlari tanpa henti, momen seperti ini menjadi pengingat yang lembut namun kuat, bahwa waktu boleh menjauhkan, jarak boleh memisahkan, tetapi darah dan kenangan akan selalu menemukan jalan untuk kembali menyatukan.

Lebaran kali ini bukan sekadar perayaan kemenangan. Ini adalah tentang memeluk kembali mereka yang selama ini hanya bisa dirindukan hingga tentang menemukan kembali rumah, dalam wujud manusia.

 

***

Wartawan: Akhib Obeng.
(24 Maret 2026)