Queensha.id – Edukasi Sosial,
Dosa mengadu domba kerap dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari. Hanya berupa ucapan, sekadar “menyampaikan kabar”, bahkan sering dibungkus dengan dalih kejujuran.
Namun dalam pandangan Islam, perilaku ini justru termasuk dosa besar yang berdampak luas yakni tidak hanya di dunia, tetapi juga hingga ke alam kubur.
Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia menegaskan bahwa mengadu domba atau Namimah bukan sekadar kesalahan sosial, melainkan penyakit moral yang berbahaya karena merusak hubungan antar manusia.
Makna Mengadu Domba dan Ancaman Nyata
Dalam kajian keislaman, Namimah adalah tindakan menyampaikan perkataan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan menimbulkan permusuhan. Praktik ini sering terjadi dalam bentuk percakapan ringan:
“Aku cuma menyampaikan ya…” “Dia sebenarnya ngomong begini tentang kamu…”
Padahal, dari ucapan sederhana itulah konflik bisa membesar.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad, disebutkan bahwa beliau pernah melewati dua kuburan dan menjelaskan bahwa salah satu penghuninya sedang diazab karena kebiasaan mengadu domba. Hadis ini diriwayatkan oleh Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dua kitab hadis paling otoritatif dalam Islam.
Pandangan Ulama Indonesia
Ulama besar Indonesia seperti Buya Yahya menegaskan bahwa dosa adu domba sering tidak disadari karena dilakukan dengan cara yang halus.
Menurutnya, banyak orang merasa tidak bersalah karena hanya “menyampaikan”, padahal niat dan dampaknya adalah memecah belah.
Sementara itu, Ustaz Abdul Somad dalam berbagai ceramahnya menyebut bahwa namimah bisa lebih berbahaya dari dosa lain karena efeknya menjalar ke banyak orang.
“Satu ucapan bisa merusak banyak hati,” ujarnya, dikutip dari berbagai sumber.
Pendapat senada juga disampaikan oleh Quraish Shihab, yang menekankan pentingnya menjaga lisan sebagai bagian dari akhlak utama seorang Muslim. Ia mengingatkan bahwa konflik sosial sering berawal dari informasi yang tidak diverifikasi.
Dampak Sosial dan Psikologis
Fenomena mengadu domba tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga nyata dalam kehidupan sosial.
Orang yang terbiasa melakukan hal ini cenderung:
– Kehilangan kepercayaan dari lingkungan.
– Dijauhi oleh teman dan keluarga.
– Hidup dalam kecemasan karena takut terbongkar.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini menciptakan lingkaran kebohongan yang sulit dihentikan.
Azab Kubur: Peringatan yang Tidak Terlihat
Dalam perspektif keimanan, azab kubur menjadi peringatan serius bagi pelaku Namimah. Para ulama menjelaskan bahwa bentuknya bisa berupa kesempitan kubur, hilangnya ketenangan, hingga penyesalan yang tidak lagi berguna.
Meski tidak terlihat oleh manusia, keyakinan ini menjadi pengingat bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi.
Jalan Selamat: Menjaga Lisan
Islam menawarkan solusi sederhana namun mendalam yaitu menjaga lisan. Prinsip ini ditegaskan kembali oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
Ulama Indonesia sepakat bahwa langkah pencegahan dapat dimulai dari hal kecil:
– Menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas.
– Melakukan tabayyun sebelum berbicara.
– Menjaga rahasia orang lain.
– Memperbaiki hubungan, bukan merusaknya.
Di tengah derasnya arus komunikasi saat ini, dosa lisan menjadi semakin mudah dilakukan baik secara langsung maupun melalui media sosial. Banyak orang berhati-hati terhadap dosa besar, tetapi lengah terhadap kata-kata kecil yang diucapkan setiap hari.
Padahal, dalam ajaran Islam, bisa jadi seseorang selamat dari banyak dosa besar, namun justru hancur karena lisannya sendiri.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kekuatan kata bukan hanya membangun, tetapi juga bisa menghancurkan dan bahkan hingga ke alam kubur.
***
(Ditulis untuk Queensha Jepara — 28 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan