Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah kehidupan bermasyarakat, tidak sedikit orang yang menyimpan pertanyaan dalam hati: “Kalau kita membantu teman, tetangga, atau saudara yang tidak pernah sholat, apakah bantuan kita tetap bernilai pahala?”

Pertanyaan seperti ini kerap muncul dalam obrolan warga, forum pengajian, hingga media sosial. Sebagian orang merasa kecewa ketika melihat seseorang yang sering dibantu justru terlihat jauh dari ibadah.

Namun dalam pandangan Islam, persoalan tersebut ternyata memiliki penjelasan yang lebih luas dan mendalam.

 

 

Menolong Sesama Tetap Bernilai Ibadah

Dalam ajaran Islam, membantu sesama manusia tetap dinilai sebagai amal kebaikan selama dilakukan dengan niat yang ikhlas dan bukan untuk mendukung kemaksiatan.

Allah SWT berfirman:

 

Artinya:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS Al-Maidah: 2)

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa Islam mendorong umatnya untuk peduli terhadap sesama tanpa harus terlebih dahulu menilai sempurna atau tidaknya ibadah seseorang.

Membantu orang sakit, memberi makan orang lapar, menolong tetangga yang kesulitan, hingga membantu saudara yang sedang terpuruk tetap termasuk amal sosial yang dianjurkan dalam agama.

 

 

Jangan Jadikan Ibadah Orang sebagai Alasan Membenci

Sejumlah ulama di Indonesia juga menegaskan bahwa orang yang belum taat justru membutuhkan pendekatan yang lembut, bukan dijauhi.

Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa dakwah paling efektif sering lahir dari keteladanan akhlak dan kasih sayang, bukan sekadar kemarahan atau penghakiman.

Sementara KH. Ahmad Bahauddin Nursalim pernah menyampaikan bahwa manusia tidak boleh merasa paling suci dibanding orang lain.

“Jangan gampang membenci orang yang jauh dari agama. Bisa jadi suatu saat dia mendapat hidayah dan justru lebih baik,” demikian inti nasihat yang sering disampaikan Gus Baha dalam berbagai pengajian.

Pandangan serupa juga sering disampaikan para kiai kampung di berbagai daerah. Menurut mereka, bantuan yang tulus justru bisa membuka hati seseorang untuk lebih dekat kepada agama.

 

 

Hidayah Tidak Bisa Dipaksa

Fenomena ini banyak ditemui di lingkungan masyarakat. Ada orang yang rajin membantu tetangga, aktif gotong royong, tetapi belum disiplin dalam sholat. Sebaliknya, ada pula yang rajin ibadah namun kurang peduli terhadap lingkungan sosial.

Para ulama mengingatkan bahwa urusan hidayah merupakan hak prerogatif Allah SWT.

Manusia hanya diperintahkan untuk berbuat baik dan saling mengingatkan dengan cara yang santun.

Karena itu, membantu orang lain sebaiknya tidak disertai niat merendahkan atau merasa paling benar.

 

 

Dakwah Lewat Sikap Baik Dinilai Lebih Menyentuh

Di tengah masyarakat modern, pendekatan dakwah melalui sikap baik dinilai semakin penting. Banyak orang justru tersentuh oleh perlakuan yang manusiawi dibanding ceramah yang keras.

Membantu tetangga yang kesulitan ekonomi, menjenguk saudara sakit, hingga memberi dukungan kepada teman yang sedang terpuruk bisa menjadi bentuk dakwah sosial yang nyata.

Tidak sedikit orang yang akhirnya berubah menjadi lebih baik karena pernah merasakan kepedulian dari orang lain.

 

 

Islam Mengajarkan Keseimbangan

Meski demikian, para ulama juga mengingatkan bahwa membantu dalam urusan dunia tetap perlu diimbangi dengan kepedulian terhadap akhirat.

Artinya, selain membantu secara materi atau tenaga, umat Islam juga dianjurkan untuk:

  • mengajak sholat dengan lembut,
  • memberi contoh akhlak yang baik,
  • mendoakan sesama,
  • dan menjaga hubungan persaudaraan.

Sebab dalam Islam, hubungan sosial dan hubungan kepada Allah SWT harus berjalan seimbang.

Pada akhirnya, membantu orang lain tetap menjadi amal mulia. Bahkan terkadang, sebuah kebaikan kecil bisa menjadi jalan datangnya hidayah bagi seseorang.

 

***

Queensha Jepara, (29 Mei 2026).