Queensha.id – Edukasi Sosial,
Banyak orang menganggap rezeki semata soal kerja keras dan peluang. Namun dalam pandangan Islam, ada satu hal yang kerap diabaikan yaitu lisan. Ucapan yang keluar dari mulut diyakini bukan sekadar kata, tetapi juga doa yang bisa memengaruhi jalan hidup seseorang.
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, sebagian orang tanpa sadar sering melontarkan kalimat negatif seperti “tidak punya uang”, “cari uang itu susah”, hingga keluhan berulang tentang mahalnya kehidupan. Padahal, para ulama mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat berdampak pada cara seseorang memandang dan menerima rezeki.
Ucapan Negatif, Cermin Hati yang Sempit
Cendekiawan Muslim Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam Islam, menjaga lisan adalah bagian dari akhlak utama. Ucapan yang buruk tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga mencerminkan kondisi batin yang kurang bersyukur.
Mengganti kalimat “tidak punya uang” menjadi “belum ada uang” dinilai sebagai bentuk optimisme dan pengakuan bahwa rezeki masih mungkin datang.
Rezeki Tak Hanya Soal Uang
Menurut KH. Abdullah Gymnastiar, rezeki dalam Islam memiliki makna luas. Ia bukan hanya uang, tetapi juga kesehatan, waktu bersama keluarga, hingga kesempatan belajar.
“Orang yang pandai bersyukur akan merasa cukup, meski secara materi belum berlebih,” demikian pesan yang sering disampaikan dalam berbagai kajian beliau.
Kekuatan Lisan dalam Membentuk Realitas
Sementara itu, Ustaz Abdul Somad menekankan bahwa ucapan yang baik adalah doa. Ketika seseorang terbiasa berkata positif, ia sedang menanam harapan baik dalam dirinya sendiri.
Sebaliknya, ucapan negatif yang terus diulang bisa membentuk pola pikir pesimis dan menutup peluang.
Contoh Ucapan: Dari Keluhan Menjadi Doa
Berikut contoh sederhana perubahan ucapan yang dianjurkan para ulama dan motivator spiritual:
Jangan ucapkan ini, “Saya tidak punya uang”
Boleh ucapkan ini, “Saya belum punya uang, insya Allah segera ada rezekinya.”
Jangan ucapkan ini, “Cari uang itu susah”
Boleh ucapkan ini, “Alhamdulillah, Allah selalu beri jalan rezeki.”
Jangan ucapkan ini, “Semua serba mahal”
Boleh ucapkan ini, “Insya Allah, nanti bisa kebeli di waktu yang tepat.”
Jangan ucapkan ini, “Saya lagi sial terus”
Boleh ucapkan ini, “Mungkin ini ujian, semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.”
Jangan ucapkan ini, “Hidup saya begini-begini saja”
Boleh ucapkan ini, “Saya sedang berproses, semoga ke depan lebih baik.”
Jangan ucapkan ini, “Kerja capek, hasil segini saja”
Boleh ucapkan ini, “Alhamdulillah tetap ada hasil, semoga terus bertambah berkah.”
Antara Ikhtiar dan Keyakinan
Dari sisi usaha, rezeki tetap harus dijemput dengan kerja keras, jaringan, dan disiplin. Kebiasaan sederhana seperti menabung, meningkatkan keterampilan, hingga menjaga profesionalitas menjadi faktor penting dalam membuka pintu rezeki.
Namun tanpa diimbangi dengan hati yang lapang dan lisan yang terjaga, usaha tersebut sering terasa berat dan tidak berkah.
Bijak Berkata, Lapang Rezeki
Para ulama sepakat bahwa menjaga lisan bukan sekadar etika, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual. Mengganti keluhan dengan doa, serta pesimisme dengan harapan, menjadi langkah kecil yang berdampak besar.
Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang didapat, tetapi juga tentang seberapa lapang hati dalam menerimanya.
“Setiap kata adalah doa. Maka berhati-hatilah dalam berbicara, karena bisa jadi apa yang diucapkan itulah yang akan kembali kepada kita.”
***
(Ditulis untuk Queensha Jepara, 29 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan