Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah kesibukan mencari rezeki, banyak suami merasa telah menunaikan kewajiban ketika kebutuhan materi keluarga terpenuhi.

 

Namun para ulama mengingatkan, dalam pandangan Islam, nafkah tidak berhenti pada uang, melainkan mencakup tanggung jawab spiritual, moral, dan kehadiran dalam keluarga.

Pesan ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dalam konteks rumah tangga, suami bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pemimpin yang akan dimintai jawaban di hadapan Allah.

Ulama kharismatik Indonesia, Abdul Somad, dalam berbagai ceramahnya menegaskan bahwa nafkah halal adalah fondasi utama keberkahan keluarga. Namun, ia mengingatkan bahwa keberkahan tidak akan sempurna tanpa bimbingan agama di dalam rumah.

“Banyak orang mencari nafkah siang malam, tapi lupa mengajak keluarganya shalat. Padahal itu bagian dari tanggung jawab,” ujarnya.

 

Nafkah Lahir dan Batin

Pandangan serupa disampaikan Quraish Shihab yang menekankan bahwa nafkah dalam Islam memiliki dimensi lahir dan batin. Memberi makan, tempat tinggal, dan pendidikan adalah kewajiban dasar, namun menjaga akhlak dan iman keluarga adalah tanggung jawab yang tidak kalah penting.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan setiap mukmin menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut menegaskan bahwa peran suami tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh materi.

 

“Keluarga butuh teladan, bukan hanya fasilitas,” jelasnya dalam berbagai kajian.

 

Risiko Nafkah yang Salah Arah

Ulama juga mengingatkan bahaya jika nafkah diperoleh dari jalan yang tidak halal atau mengorbankan kehadiran dalam keluarga.

Adi Hidayat menegaskan bahwa setiap harta yang masuk ke dalam rumah akan dimintai pertanggungjawaban, baik asal-usul maupun penggunaannya. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa manusia akan ditanya tentang hartanya: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.

“Kalau halal tapi membuat keluarga jauh dari Allah, itu belum sempurna. Kalau haram, itu justru menjadi petaka,” tegasnya.

Nafkah yang Bernilai Ibadah

Di sisi lain, Islam memberikan kabar gembira bahwa setiap nafkah yang diberikan kepada keluarga bernilai ibadah. Bahkan, satu suapan kepada istri dan anak bisa menjadi sedekah yang berpahala.

Ulama menilai, konsep ini menempatkan peran suami pada posisi yang sangat mulia yang bukan karena besar kecilnya penghasilan, tetapi karena niat dan tanggung jawab yang dijalankan.

Renungan di Tengah Kesibukan
Para ulama sepakat, ukuran keberhasilan seorang suami bukan hanya pada karier atau harta, tetapi pada bagaimana ia membimbing keluarganya menuju kebaikan.

Kelak, di akhirat, keluarga bukan hanya menjadi kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi saksi dan apakah seorang suami telah menjalankan amanahnya atau justru lalai.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas mencari nafkah, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: memastikan keluarga tidak hanya hidup layak di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.

 

***
(Queensha Jepara)