Queensha.id – Edukasi Sosial & Islam,

 

Beredar luas di media sosial sebuah pesan yang menyebutkan bahwa ada lima waktu tertentu untuk berhubungan intim yang diyakini dapat memengaruhi sifat anak yang akan lahir. Misalnya, berhubungan pada Jumat dini hari diklaim akan melahirkan anak yang saleh atau pada waktu tertentu akan melahirkan anak yang cerdas dan fasih berbicara.

Lalu, bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut?

Al-Qur’an Tidak Menentukan Hari atau Jam Tertentu

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa hubungan suami istri adalah sesuatu yang halal dan menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga.

Allah SWT berfirman:

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (amal yang baik) untuk dirimu.”

(QS. Al-Baqarah: 223)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kelonggaran mengenai waktu hubungan suami istri, selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melanggar syariat.

Hadis Sahih yang Dianjurkan Rasulullah SAW

Salah satu tuntunan yang benar-benar berasal dari Rasulullah SAW adalah membaca doa sebelum berhubungan intim.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian hendak menggauli istrinya lalu membaca doa: ‘Bismillah, Allahumma jannibnasy-syaithana wa jannibisy-syaithana ma razaqtana’, kemudian ditakdirkan memperoleh anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan membahayakan anak itu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini berstatus sahih dan menjadi amalan yang dianjurkan.

Benarkah Ada Waktu-Waktu Khusus?

Hingga kini, para ulama tidak menemukan hadis sahih yang menyebut:

  • Jumat pukul 04.00 melahirkan anak saleh.
  • Kamis pukul 13.00 melahirkan anak cerdas.
  • Malam Selasa membuat anak terjaga lisannya.
  • Malam Jumat menjadikan anak wali atau fasih berbicara.

Riwayat-riwayat semacam itu dinilai lemah (dhaif) bahkan sebagian tidak memiliki sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, tidak boleh diyakini sebagai ajaran Islam yang pasti.

Penjelasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis tentang doa sebelum berhubungan intim menunjukkan pentingnya memohon perlindungan Allah bagi calon keturunan.

Beliau tidak pernah menyatakan adanya hari atau jam tertentu yang menjamin sifat anak.

Penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa keutamaan hadis tersebut terletak pada doa dan perlindungan Allah terhadap keturunan, bukan pada penentuan waktu hubungan suami istri.

Penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Ibnu Qayyim menerangkan bahwa pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh kehendak Allah SWT, doa orang tua, makanan yang halal, pendidikan, lingkungan, serta ketakwaan keluarga. Beliau tidak menetapkan jam tertentu sebagai penyebab lahirnya anak dengan sifat khusus.

Adab Berhubungan Intim Menurut Islam

Islam justru lebih menekankan adab daripada waktu tertentu, di antaranya:

  • Memulai dengan membaca basmalah dan doa.
  • Dilakukan dengan pasangan yang sah.
  • Menjaga aurat dan privasi.
  • Bersikap lembut kepada pasangan.
  • Tidak menyebarkan rahasia hubungan suami istri.
  • Mandi junub setelah selesai apabila diwajibkan.
  • Menjaga kebersihan diri.

Faktor yang Dianjurkan untuk Memohon Keturunan Saleh

Islam mengajarkan agar pasangan:

  • Memilih pasangan yang baik agamanya.
  • Memperbanyak doa kepada Allah SWT.
  • Mengonsumsi rezeki yang halal.
  • Menjalankan ibadah dengan istiqamah.
  • Mendidik anak sejak dalam kandungan hingga dewasa.

Semua itu lebih memiliki landasan syariat dibanding mempercayai jam atau hari tertentu.

Tidak ada dalil Al-Qur’an maupun hadis sahih yang menetapkan lima waktu khusus berhubungan intim sebagaimana banyak beredar di media sosial. Umat Islam hendaknya tidak meyakini klaim tersebut sebagai ajaran agama.

Yang diajarkan Rasulullah SAW adalah menjaga adab hubungan suami istri, membaca doa sebelum berhubungan, menjaga kehalalan kehidupan rumah tangga, serta memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai keturunan yang saleh.

Dengan demikian, waktu hubungan intim bukanlah penentu utama karakter anak. Semua kembali kepada kehendak Allah SWT, disertai ikhtiar orang tua melalui doa, pendidikan, dan keteladanan dalam keluarga.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.