Queensha.id – Jepara,

 

Perdebatan mengenai keberadaan hiburan orkes dangdut kembali mencuat di media sosial. Kali ini, sorotan datang dari unggahan akun Facebook Abdallah Badri yang menyuarakan penolakannya terhadap pertunjukan orkes dangdut. Unggahan tersebut menjadi perbincangan warganet karena memuat ajakan untuk membatasi bahkan menghapus keberadaan hiburan orkes melalui regulasi.

Dalam unggahannya pada Jumat (26/6/2026) sore, Abdallah Badri mengaku siap mempertaruhkan nama hingga nyawanya dalam perjuangan menolak hiburan orkes yang menurut pandangannya kerap memicu dampak negatif di tengah masyarakat.

“Pertaruhan saya lawan orkes itu nama dan nyawa. Banyak yang mendukung tapi hanya bilang, ‘Saya setuju’, ‘Aku di belakangmu’, ‘Aku bocahmu’, namun tidak ikut bantu komen lawan orang yang tidak setuju dengan saya,” tulisnya.

Ia juga mengaku mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk tokoh politik yang disebut siap mendorong lahirnya aturan daerah untuk mengurangi penyelenggaraan hiburan orkes.

“Mugo-mugo mase bisa dorong kurangi orkes lewat perda. Malam Ahad ini saya juga ketemu anggota DPRD Jateng. Dia pendukungku nolak orkes,” lanjutnya.

Selain itu, Abdallah Badri menyebut sejumlah kiai Nahdlatul Ulama (NU) mulai berani menyampaikan penolakan terhadap hiburan orkes secara terbuka di wilayah masing-masing.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi awal gerakan yang diharapkan dapat mengurangi penyelenggaraan hiburan orkes di berbagai daerah.

 

Orkes Dangdut Sudah Lama Menjadi Hiburan Masyarakat Jepara

Di sisi lain, hiburan orkes dangdut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Jepara sejak puluhan tahun lalu. Pertunjukan orkes kerap hadir dalam acara hajatan, sedekah bumi, peringatan hari besar, hingga berbagai kegiatan masyarakat lainnya.

Dangdut sendiri dikenal sebagai musik yang dekat dengan masyarakat. Kehadirannya masih memiliki banyak penggemar dari berbagai kalangan usia.

Namun, seiring perkembangan zaman, penampilan sejumlah penyanyi dangdut dinilai semakin mengikuti tren modern dengan kostum panggung yang lebih berani. Kondisi tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai sebagai bentuk kreativitas dunia hiburan, sementara sebagian lainnya menganggapnya kurang sesuai dengan norma sosial dan budaya setempat.

 

Perlu Evaluasi Tanpa Menghilangkan Nilai Budaya

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai polemik mengenai hiburan orkes dangdut perlu disikapi secara bijaksana.

Menurutnya, apabila dalam penyelenggaraan orkes ditemukan praktik yang memicu konsumsi minuman keras, perkelahian, maupun gangguan ketertiban umum, maka yang perlu dievaluasi adalah tata kelola penyelenggaraan serta pengawasannya, bukan semata-mata keberadaan musik dangdut itu sendiri.

Ia menilai pemerintah daerah bersama aparat keamanan, tokoh masyarakat, penyelenggara acara, dan pelaku seni perlu duduk bersama untuk menyusun aturan yang mampu menjaga hiburan rakyat tetap berjalan tanpa mengabaikan keamanan, ketertiban, serta nilai-nilai budaya masyarakat Jepara.

 

Perdebatan Terus Bergulir

Unggahan Abdallah Badri pun memunculkan beragam respons di media sosial. Sebagian pengguna mendukung gagasan pembatasan hiburan orkes karena dianggap sering diwarnai keributan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai orkes dangdut merupakan bagian dari budaya hiburan rakyat yang masih dibutuhkan masyarakat.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan hiburan orkes dangdut tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, keamanan, budaya, serta kebijakan pemerintah daerah dalam mengatur penyelenggaraannya.

 

***

Sumber: Abdallah Badri (akun Facebook)