Queensha.id – Cerita Inspiratif, (Opini Sosial),

 

Tradisi tahlilan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah di Pulau Jawa. Selain menjadi sarana mendoakan orang yang telah meninggal dunia, tahlilan juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat gotong royong.

Namun, di balik nilai-nilai tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan masyarakat. Apakah tradisi itu tetap membawa manfaat jika justru membuat keluarga yang sedang berduka harus berutang demi menjamu tamu?

Pertanyaan itu tergambar dalam sebuah cerita fiksi berjudul Arini, karya penulis Puspita yang selesai ditulis di Tuban pada 10 Oktober 2026.

Kisah Fiktif yang Sarat Pesan Sosial

Cerita mengisahkan Arini, seorang ibu muda yang baru saja kehilangan suaminya, Sukardi, seorang buruh tani berusia 38 tahun.

Di tengah kesedihan karena kehilangan pasangan hidup, Arini harus menghadapi kenyataan lain. Tradisi tahlilan selama tujuh malam membuat seluruh uang sumbangan warga habis untuk membeli beras, gula, kopi, minyak goreng, hingga rokok dan hidangan bagi tamu yang datang setiap malam.

Bahkan ketika dana sumbangan tidak lagi mencukupi, Arini digambarkan harus berutang di warung demi mempertahankan tradisi yang dianggap sebagai kewajiban sosial.

Pada akhir cerita, Arini bukan hanya kehilangan suami, tetapi juga harus memulai hidup sebagai janda dengan dua anak kecil sambil menanggung utang hampir Rp2 juta.

Pesan Moral yang Ingin Disampaikan

Walaupun bersifat fiksi, cerita tersebut menyampaikan kritik sosial yang relevan dengan kondisi di sejumlah daerah.

Penulis mengajak pembaca merenungkan apakah keluarga yang sedang berduka seharusnya dibebani kewajiban menyediakan makanan, minuman, bahkan berkat dalam jumlah besar ketika kondisi ekonomi mereka sangat terbatas.

Cerita itu tidak mengkritik doa maupun nilai kebersamaan, melainkan mengajak masyarakat membedakan antara ibadah, tradisi, dan tekanan sosial yang berkembang di lingkungan tertentu.

Gotong Royong Seharusnya Meringankan

Dalam banyak daerah, semangat gotong royong sebenarnya menjadi inti dari tradisi kematian.

Tetangga biasanya membantu memasak, mendirikan tenda, meminjamkan peralatan, hingga memberikan bantuan berupa bahan makanan maupun uang.

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit keluarga yang merasa harus menyediakan hidangan melebihi kemampuan ekonomi mereka karena khawatir dianggap tidak menghormati tamu atau melanggar kebiasaan masyarakat.

Kondisi seperti inilah yang menjadi sorotan dalam kisah Arini.

Tradisi Perlu Disesuaikan dengan Kemampuan

Banyak tokoh agama maupun tokoh masyarakat berpendapat bahwa membantu keluarga yang sedang berduka merupakan bentuk kepedulian yang dianjurkan.

Karena itu, pelaksanaan tradisi sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga dan tidak menjadi beban yang mempersulit kehidupan mereka setelah kehilangan anggota keluarga.

Nilai utama yang perlu dijaga adalah doa, empati, kebersamaan, dan saling membantu, bukan kemewahan sajian ataupun banyaknya hidangan yang disediakan.

Menjadikan Tradisi Lebih Bermakna

Cerita fiksi karya Puspita menjadi pengingat bahwa tradisi akan tetap bernilai apabila mampu menghadirkan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Melalui kisah Arini, pembaca diajak memahami bahwa dukungan moral, doa yang tulus, dan bantuan nyata sering kali jauh lebih berarti dibandingkan tuntutan sosial yang justru membuat keluarga berduka semakin terbebani.

Dengan demikian, tradisi tahlilan dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya dan keagamaan, selama pelaksanaannya tetap mengedepankan nilai kemanusiaan, kepedulian, serta tidak memaksa keluarga yang sedang berduka melampaui kemampuan ekonominya.

 

Catatan Redaksi:

Artikel ini membahas cerita fiksi karya Puspita sebagai bahan refleksi sosial. Isi cerita tidak menggambarkan kondisi semua masyarakat atau semua pelaksanaan tradisi tahlilan di Indonesia.

 

***

Sumber: Puspita.