Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Istilah “pick me” kian ramai diperbincangkan, terutama di media sosial yang menjadi panggung utama ekspresi diri generasi muda. Sekilas tampak seperti upaya tampil unik, namun di baliknya tersimpan dinamika psikologis yang lebih kompleks dan bahkan bisa menjadi sinyal krisis kepercayaan diri yang tidak disadari.

Fenomena ini merujuk pada perilaku seseorang yang berusaha menonjolkan diri sebagai “berbeda dari yang lain” demi mendapatkan perhatian, pengakuan, atau validasi sosial. Dalam praktiknya, sikap ini sering kali muncul secara halus, bahkan terselubung dalam percakapan sehari-hari.

Salah satu ciri paling mencolok adalah dorongan kuat untuk terlihat unik.

 

Individu dengan kecenderungan ini kerap menegaskan bahwa dirinya tidak seperti kebanyakan orang, baik dalam gaya hidup, pergaulan, hingga cara berpikir. Pernyataan seperti “aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki” atau “aku nggak suka dandan seperti perempuan lain” menjadi contoh yang sering ditemui.

Menurut psikolog klinis, dorongan untuk tampil berbeda secara berlebihan dapat berakar dari rendahnya self-esteem. Individu merasa perlu menciptakan identitas yang kontras agar mendapatkan pengakuan yang tidak ia rasakan secara internal. Dengan kata lain, perbedaan dijadikan alat untuk menutupi rasa tidak aman.

Tak hanya itu, perilaku pick me juga kerap disertai dengan kecenderungan merendahkan orang lain secara tersirat.

 

Alih-alih mengkritik secara langsung, individu akan menggunakan perbandingan halus yang membuat dirinya tampak lebih unggul. Misalnya, komentar yang terlihat netral tetapi menyimpan pesan implisit bahwa pilihan orang lain kurang baik atau berlebihan.

Fenomena ini menunjukkan adanya mekanisme social comparison defensif—di mana seseorang meningkatkan citra dirinya dengan cara menurunkan citra orang lain secara tidak langsung. Strategi ini membuat pelaku tetap terlihat “rendah hati”, namun tetap mendapatkan posisi sosial yang lebih tinggi di mata lingkungan.

Di era digital, perilaku pick me semakin mudah berkembang. Media sosial memberikan ruang luas bagi individu untuk membangun citra diri, sekaligus membuka peluang besar untuk mencari validasi instan melalui likes, komentar, dan perhatian publik. Tanpa disadari, kebutuhan akan pengakuan ini dapat berubah menjadi ketergantungan.

Pengamat sosial menilai, fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi dari tekanan sosial yang semakin tinggi, terutama terhadap standar identitas dan penerimaan diri. Ketika validasi eksternal menjadi tolok ukur utama, individu rentan kehilangan koneksi dengan nilai dirinya yang autentik.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini. Alih-alih menghakimi, pendekatan yang lebih empatik dinilai penting, karena di balik sikap “ingin dipilih” tersebut, sering kali tersembunyi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Pada akhirnya, fenomena pick me bukan hanya soal sikap mencari perhatian, tetapi juga cermin dari tantangan kesehatan mental di tengah arus budaya digital yang serba cepat dan kompetitif.

 

***
(28 Maret 2026)