Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah kondisi ekonomi yang dirasakan semakin berat oleh sebagian masyarakat, fenomena utang piutang kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Pada Rabu (17/6/2026), akun Facebook @Dilemacinta mengunggah dua gambar berisi sindiran yang langsung menarik perhatian warganet.

Dalam gambar tersebut tertulis:

“Dilarang Ngutang. Dihutangi Senang, Ditagih Marah, Dibiarkan Pura-Pura Lupa. Hutang Adalah Pemutus Silaturahmi Paling Tajam.”

Sementara gambar lainnya berbunyi:

“Dilarang Ngutang. Kalau Ada yang Bilang Cari Uang Itu Susah, Percayalah Nagih Hutang Jauh Lebih Susah.”

Unggahan tersebut menuai ribuan reaksi karena dianggap mewakili keresahan banyak orang yang pernah mengalami sulitnya menagih utang kepada teman, saudara, bahkan kerabat dekat.

 

Ekonomi Sulit, Utang Menjadi Jalan Pintas

Tidak dapat dipungkiri, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat sebagian masyarakat memilih berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mulai dari kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, kesehatan, hingga modal usaha sering kali membuat seseorang terpaksa meminjam uang kepada keluarga, teman, tetangga, maupun lembaga keuangan.

Namun persoalan muncul ketika komitmen untuk mengembalikan pinjaman tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Tidak sedikit hubungan pertemanan, persaudaraan, hingga keluarga yang retak akibat persoalan utang piutang.

 

Ketika Penagih Justru Menjadi “Tersangka”

Ironisnya, dalam banyak kasus, pihak yang memberikan pinjaman justru sering dianggap sebagai pihak yang bersalah saat menagih haknya.

Awalnya hubungan berjalan baik. Saat membutuhkan uang, peminjam datang dengan wajah penuh harap, janji manis, bahkan terkadang disertai sumpah akan segera mengembalikan.

Namun ketika jatuh tempo tiba, situasi berubah drastis.

Telepon tidak diangkat.

Pesan tidak dibalas.

Bahkan ada yang memilih menghindar atau memutus komunikasi.

Yang lebih menyakitkan, ketika ditagih justru marah dan merasa terganggu.

 

Keluhan Warga yang Kesal

Salah seorang warga Jepara yang enggan disebutkan namanya mengaku pernah mengalami pengalaman pahit saat meminjamkan uang kepada rekannya.

“Waktu pinjam baik sekali, hampir setiap hari menghubungi saya. Setelah uang saya kasih, giliran ditagih malah saya yang dianggap tidak punya perasaan. Padahal itu uang hasil kerja keras saya,” ungkapnya.

Warga lainnya juga mengaku kapok memberikan pinjaman kepada orang yang tidak memiliki itikad baik.

“Kalau tidak mampu bayar tepat waktu, minimal komunikasi yang baik. Jangan malah menghilang seperti ditelan bumi,” katanya.

 

Kalimat Tajam yang Sering Muncul Saat Menagih Hutang

Di tengah kekecewaan tersebut, muncul berbagai ungkapan pedas yang sering terdengar di masyarakat.

Beberapa di antaranya:

“Waktu pinjam, saya dianggap saudara. Waktu ditagih, saya dianggap musuh.”

“Yang punya utang tidur nyenyak, yang ngasih utang malah susah tidur.”

“Kalau memang belum bisa bayar, setidaknya jangan hilang kabar. Hutang itu bukan sedekah.”

“Jangan sampai harga diri lebih murah daripada hutang yang belum dibayar.”

Meski demikian, para ahli mengingatkan agar proses penagihan tetap dilakukan secara santun dan tidak melanggar hukum.

 

Bagaimana Cara Menolak Permintaan Utang Secara Baik?

Banyak orang sebenarnya merasa tidak enak ketika harus menolak permintaan pinjaman dari teman atau kerabat.

Namun menolak bukan berarti tidak peduli.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

 

1. Sampaikan Kondisi Keuangan dengan Jujur

Katakan secara baik bahwa kondisi keuangan sedang memiliki kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.

 

2. Jangan Memberi Harapan Palsu

Jika memang tidak mampu membantu, lebih baik mengatakan sejak awal daripada memberikan janji yang tidak pasti.

 

3. Berikan Alternatif Solusi

Apabila memungkinkan, bantu dengan memberikan informasi pekerjaan, peluang usaha, atau solusi lain selain pinjaman uang.

4. Pisahkan Hubungan Pertemanan dan Keuangan

Menjaga hubungan baik terkadang lebih penting daripada memaksakan transaksi yang berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari.

 

Edukasi: Utang Harus Disertai Tanggung Jawab

Para pakar ekonomi keluarga menilai bahwa utang sebenarnya bukan sesuatu yang salah selama digunakan untuk kebutuhan yang produktif dan disertai komitmen untuk mengembalikan.

Masalah muncul ketika seseorang menjadikan utang sebagai gaya hidup, bukan sebagai solusi sementara.

Kebiasaan berutang tanpa perencanaan dapat menimbulkan tekanan finansial berkepanjangan dan merusak kepercayaan sosial.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa utang adalah amanah yang wajib diselesaikan.

 

Pandangan Pengamat Sosial Jepara

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa fenomena sulitnya menagih utang merupakan cerminan dari menurunnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap tanggung jawab moral.

Menurutnya, persoalan utang bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga menyangkut integritas dan karakter seseorang.

“Dalam kehidupan bermasyarakat, kepercayaan adalah modal sosial yang sangat mahal. Ketika seseorang meminjam uang lalu mengabaikan kewajiban mengembalikannya, maka yang rusak bukan hanya hubungan keuangan, tetapi juga kepercayaan dan silaturahmi,” ujar Purnomo Wardoyo, Rabu (17/6/2026).

Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu membangun budaya malu apabila memiliki utang yang belum diselesaikan.

“Orang yang bertanggung jawab akan berusaha berkomunikasi dan mencari solusi. Yang membuat masalah menjadi besar biasanya bukan nominal hutangnya, melainkan sikap menghindar dan tidak memiliki itikad baik,” tegasnya.

 

Menjaga Kepercayaan di Tengah Sulitnya Ekonomi

Kondisi ekonomi yang berat memang menjadi tantangan bagi banyak keluarga. Namun kejujuran, komunikasi, dan tanggung jawab tetap menjadi kunci utama dalam menjaga hubungan baik antar sesama.

Karena pada akhirnya, uang memang bisa dicari kembali. Tetapi kepercayaan yang hilang akibat persoalan utang sering kali jauh lebih sulit untuk dipulihkan.

Dan seperti ungkapan yang ramai beredar di media sosial, banyak orang kini mulai percaya bahwa mencari uang memang sulit, tetapi menagih hutang terkadang jauh lebih sulit.

 

***

Queensha Jepara.