Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah budaya yang menjunjung tinggi kesopanan dan harmoni sosial, sikap “tidak enakan” sering dianggap sebagai bentuk kebaikan hati. Namun di balik itu, tersimpan persoalan serius yang kerap luput dari perhatian: kelelahan emosional dan hilangnya batas diri.

Fenomena ini dikenal luas sebagai people pleaser, yakni kecenderungan seseorang untuk selalu mengutamakan perasaan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, perilaku ini bukan hanya melelahkan, tetapi juga berpotensi merusak kesehatan mental.

Berikut tiga ciri utama kepribadian “tidak enakan” yang perlu diwaspadai:

1. Sulit Menetapkan Batasan

Salah satu tanda paling jelas adalah ketidakmampuan berkata “tidak”. Banyak orang merasa bersalah jika menolak permintaan, meski kondisi fisik dan mental mereka tidak memungkinkan.

Akibatnya, mereka terus menerima beban yang sebenarnya di luar kapasitas. Keputusan yang diambil bukan lagi berdasarkan kebutuhan pribadi, melainkan demi menjaga perasaan orang lain. Pola ini perlahan membentuk kebiasaan yang menguras energi dan mengabaikan diri sendiri.

 

2. Menghindari Konflik dengan Cara Mengalah

Orang yang tidak enakan cenderung alergi terhadap konflik. Perbedaan pendapat sering dianggap sebagai ancaman yang harus dihindari, bukan diselesaikan.

Mereka lebih memilih diam atau mengalah, bahkan saat berada di posisi benar. Sensitivitas terhadap emosi orang lain membuat mereka cepat membaca situasi, tetapi juga membuat mereka rentan menekan perasaan sendiri demi menjaga suasana tetap “aman”.

 

3. Bergantung pada Validasi Orang Lain

Ciri lain yang tak kalah penting adalah ketergantungan pada penilaian eksternal. Rasa percaya diri sering kali naik turun, tergantung pada pujian atau kritik dari orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terlihat dari sulitnya mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan. Bahkan keputusan kecil pun terasa berat jika belum mendapatkan “restu” dari lingkungan sekitar.

Sikap tidak enakan memang bisa mempererat hubungan sosial. Namun jika berlebihan, justru menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri. Para ahli menekankan pentingnya keseimbangan yaitu menghargai orang lain tanpa kehilangan hak untuk menjaga diri sendiri.

Belajar menetapkan batasan, berani menghadapi konflik secara sehat, serta membangun kepercayaan diri dari dalam adalah langkah penting agar tidak terjebak dalam lingkaran people pleaser.

Pada akhirnya, menjadi baik bukan berarti harus selalu mengalah. Ada saatnya berkata “tidak” justru menjadi bentuk kepedulian terbesar dan terutama untuk diri sendiri.

 

***
(Rabu, 8 April 2026)